Wednesday, 24 June 2009

Training hari pertama

Alhamdulillah, hari pertama training, udah lumayan dapet ilmu-ilmu yang diajarin, tinggal gimana nya nanti berimprovisasi dalam permainan kata-kata,mulai dari penganalan perangkat, latihan recording siaran, sampe ilmu-ilmu teori dalam dunia penyiaran, udah dibahas...

semoga aja nanti pas terjun langsung mengudara, mudah-mudahan bisa an gak kaget...heheh....kalo dipikir-pikir bisa stress sih, kuncinya santai aja daan harus kreatif...itu kata Bang Adi mentor di prima Radio...

seneng banget bisa dapet ilmu, dapet temen, dapet pengalaman dan tentunya dapet kerjaan baru yang emang udah sangat diimpikan...heheheh dreams come true ternyata, semoga aja, jalan yang gue tempuh ini adalah jalan terbaik buat gue

Tuesday, 23 June 2009

Monday, 22 June 2009

akhirnya kabar baik itu datang

Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku ucap syukur kepada Allah, do'a ku terkabul sudah...tadi siang pas mo mandi ada telpon, eh ternyata dari Mas Heri dari Sonora, ngabarin kalau aku diterima gabung di radio sonora, seneng banget pastinya...ternyata di usia ke-25 ketika ngerasa gak ada harapan lagi buat nyari kerjaan, eh ternyata impian ku selama ini jadi kenyataan dream's come true...

aduhhh....seneng banget ga bisa dilukiskan dech...apa lagi ngeliat nyokap yang langsung sujud syukur karena aku diterima....heheheh...ini 100% mang jasa nyokap, dari yang ngasih informasi kalo ada lowongan (maklum nyokap pecinta radio sejati hahahahah......) sampe ngasih support biar aku gak pesimis...hasilnya Alhamdulillah, do'a ibu mang mujarab...rab...rab...

mudah-mudahan langkah ku kali ini berjalan mulus, karena apa yang aku cita-citain udah didepan mata, semoga kerjaan kali ini lancar...lebih semangat, lebih bertanggung jawab...
Ya Allah...aku mohon petunjukMu....semoga ini jalan terbaik untuk kehidupanku...amin...amin...


Sunday, 21 June 2009

Hari-hari yang mendebarkan ini...

Alhamdulillah, kemarin udah ngelewatin 3 tahap seleksi mo jadi penyiar radio...heheheh....seleksi pertama test modulasi suara, awalnya gak pede banget sama hasilnya...tapi ternyata kabar mengejutkan itu datang 2 hari setelah itu...eh...gue lulus test, and berhak ikut test psikotes....

semangat banget test psikotest...tapi kali ini gue yakin banget gue lulus,,, eh ternyata bener satu hari setelah itu gue dikabarain lulus test and berhak ikut interview....nah ini nih yang bikin berdebar-debar...nungguin hasilnya...kira-kira gue jebol ga yah...

tapi pas interview kemarin gue deg-degan banget...yang ditanyain yah seputar kerjaan gue yang sekarang...tapi gue harus optimis nih...gue yakin banget kalo gue bakal lulus and bisa jadi penyiar radio seperti apa yang gue impikan selama ini....

terima kasih Tuhan, muluskanlah jalanku untuk membahagikan my mom...

Monday, 15 June 2009

Alhamdulillah

Alhamdulillah, Ya Allah...terima kasih Engkau menjawab doa'ku.

ini adalah awal, masih ada proses dan tahap yang akan aku ikuti, bimbing aku Ya Allah, Ridhoi setiap langkahku, agar aku tidak tersesat. aku inginkan jalan lurus, jalan yang Engkau Ridhoi dan Rakhmati...Terima kasih atas KebesaranMu, aku akan berusaha, aku yakin aku bisa...

Monday, 8 June 2009

AKU...Lelah


untuk seseorang dan satu-satunya orang yang tau bagaimana bicara tanpa kata,
aku melihatmu…
walau coklat menjadi abu
dan pink menjadi jingga

aku merasakanmu...
walau hati ini kelu dan beku
dan hampir mati rasa

karena aku...

mengertilah, aku lelah

dibalik senyum dan tawa ini
disana muncul badai lagi
jauh tersembunyi di lubuk hati dan sisi gelapnya

berawal dari hujan rintik
yang semakin lama kian deras
membanjiri hatiku
hingga bergemuruh dan menjadi badai
there are times when I cant find answers no matter how much i think

lelah . .
ya aku lelah,

lelah dengan semua
lelah menunggu kepastian.
kamu, iya kamu yang membuatku lelah.
sampai aku menangis lemah.
aku lelah hingga terluka
yang membuat semua keyakinan jadi ragu
yang membuat semua tawa jadi palsu
yang menghisap semua kenangan indah manis
yang membakar semua kebahagiaan gelak tawa
yang menghancurkan semua impian dan harapan
there are times when I cant find answers no matter how long I think
aku ingin pergi. aku merasa tidak berarti dan patah hati
aku lelah, hingga aku ingin sekali terbaring mati
tak bergerak, diam, tidak merasakan apa-apa
karena jiwaku sudah tak disini
karena aku lelah menunggu

jangan buatku menunggu atau lepaskan aku
aku lelah . .
aku lelah, lelah menumpuk air mata yang tidak bisa tumpah .
there are times when I can’t find answers no matter how hard I think,
.. then I tired


Sunday, 7 June 2009

Thursday, 26 June 2008

djarot masih dia yang dulu,,,,

gak tau berapa lama lagi gw harus menunggu untuk berani muncul didepan doi, gw rasanya udah gak punya kesempatan lagi untuk bilang kalo gw masih sayang dan pengen selalu di samping doi. dua minggu yang lalu, tepatnya gw gak tau pasti kapan peristiwa itu terjadi, tiba-tiba aja pikiran gila muncul di otak gw, gw udah gak bisa lagi ngebendung perasaan gw, gw ambil handphone dan ketik sms, gw bilang gw pengen balik lagi sama doi dan gw janji sanggup ngejalanin apa adanya seperti yang doi mau, tapi entah karena apa, kok doi gak mau reply sms gw, gw kecewa dan sakit hati, gw sedih mengapa doi bikin gw seperti ini. dari peristiwa itu, gw janji gak mau ngubungin doi lagai, tapi 1 minggu kemudian setelah peristiwa itu, gw masih penasaran dan pengen tau gimana doi saat itu, gw nekad telpon doi, gw mau tau doi angkat telp gw pa nggak, ternyata doi mau jawab telp gw, gw tanya kabar doi gimana, trus doi bilang, dia masiah sama seperti dulu, dari situ gw sadar dan tau, ternyata doi masih seperti 25 hari yang lalu, doi masih gak bisa lagi nerima gw, doi masih belum siap berkomitmen, doi masih pengen happy2 ma temen2 nya, doi masih suka makek dan doi masih gak bisa membagi waktu nya buat gw meskipun hanya sedikit, dan doi sekarang jadi males bales sms gw, dari situ doi tanya gw sekarang dimana, gw bilang gw di Bangka sekarang, awalnya gak percaya, tapi gw berusaha ngeyakinin gw ada disini sekarang. dari situ, gw tau doi mulai gak ramah sama gue, dan gue berjanji gak akan muncul selama waktu gw masih bisa membatasi diri supaya gak kangen doi lagi. gw harap gw bisa.

Tuesday, 24 June 2008

antropologi cerpen 2 : Layu,,,

Aku wanita lajang, 39 tahun. Diusiaku yang sekarang ini seharusnya aku sudah memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan yang sudah beranjak remaja, itu kata nenekku setiap kali ia bertanya kapan aku akan menikah. Aku tak muda lagi, bahkan bias dibilang aku gadis tua, Tapi aku tak menghiraukan suara-suara sumbang yang berceloteh tentang aku, aku sangat menikmati hidupku, aku wanita karir, bias dibilang, karirku sedang bagus saat ini, aku bahkan bias menghidupi kedua orang tuaku dan menyekolahkan sepupu-sepupuku. Dari selesai kuliah tekadku memang ingin bekerja sebaik-baiknya. Aku tak pernah merasa tak puas untuk hidup yang aku jalani saat ini, ada ataupun tiada seorang pria di sampingku, aku bahkan tak memusingkan hal itu, semua yang aku jalani dan miliki sekarang ini hanya untuk membahagiakan keluargaku. aku pikir jodoh bias datang kapan saja, dan bila sekarang aku masih belum menikah itu berarti aku memang belum menemukan jodoh untuk diriku.
Ini sebenarnya bukanlah hal yang aku inginkan, di saat ini pun ada orang yang mau mengajak ku menikah, bukannya aku tak mau atau memilih. Namun aku memang benar-benar harus berpikir secara matang untuk memulai suatu hubungan. Hal ini memang ada kaitannya dengan kesalahan di masa laluku. Dulu aku pernah menjalin suatu hubungan yang serius dengan seorang pria, namanya Arnold saat itu usiaku 22 tahun, selama 7 tahun aku mengenalnya, banyak hal yang sudah kami rasakan sama-sama, segala kekurangan dan kelebihan masing-masing bukan lagi menjadi hal yang serius untuk kami persoalkan, namun pada saat itu, kami belum pernah sekalipun bicara tentang pernikahan, tapi aku sangat yakin sekali kalau kami adalah jodoh dan bias menjalani hidup bersama sampai tua. Karena pada saat itu kami sama-sama masih kuliah dan rasanya belum siap untuk berumah tangga sebelum memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Dan saat itu bias dibilang kami sangat menikmati hubungan itu. Memasuki tahun ke 7 usia pacaran kami tiba-tiba rasa jenuh muncul di hatiku, kami sering bertengkar karena hal-hal yang sepele. Dan itu bukan alas an utama yang aku rasakan semua berawal ketika tanpa sengaja aku bertemu dengan Romy seseorang dari masa laluku, dia adalah teman SMA ku. saat masih SMA aku memendam satu perasaan yang special terhadapnya, namun saat itu aku tak pernah berani untuk mengatakannya. Sampai pada saat kami bertemu untuk yang pertama kalinya selama 5 tahun tak bertemu. Dan dari pertemuan itulah kami sama-sama mengungkapkan perasaan yang telah lama tak bias aku ungkapkan. Dari situlah hatiku mulai gelisah, hatiku telah mendua, dan cintaku benar-benar telah terbagi. Hari-hariku diliputi rasa bersalah dan emosi yang meledak-ledak, makin hari perasaan ku terhadap Arnold semakin hilang sampai pada akhirnya aku dan Arnold memutuskan untuk berpisah karena sama-sama merasa tak bias lagi memperbaiki hubungan kami. Aku merasa bersalah dan berdosa sekali, bahkan Arnold tak tau kalau aku telah selingkuh di belakangnya, sampai saat ini pun Arnold tak pernah tau apa kesalahannya sampai aku meminta putus darinya. Aku sangat kejam, itulah yang dikatakan teman karibku atas keputusanku. Kini aku lega, aku piker aku bias dengan leluasa menjalin hubungan tanpa sembunyi-sembunyi lagi dengan Romy, tapi ternyata aku salah, Romy tak pernah ingin ada satu komitmen, Romy memang bilang suka padaku dan mau jadi pacarku, tapi dia tak pernah siap ada ikatan, awalnya aku mau saja menjalin hubungan dengan Romy meski tanpa komitmen. Bias dibilang kami bertemu di saat-saat membutuhkan saja. Awalnya aku bias, tapi akhirnya aku tak pernah bias menghadapi hubungan yang seperti ini, aku mulai merasa jenuh dan letih sendiri. Aku merasa hanya aku yang membutuhkan Romy sedangkan dia tak pernah membutuhkan aku. Aku bertemu dengannnya dan mengajaknya bicara tentang hubungan kami, tapi setiap kali ada kesempatan bicara, semua persoalan ini tak pernah terselesaikan bahkan semakin memperburuk keadaan, aku tau Romy tak menjalin hubungan dengan wanita manapun selain aku, namun satu hal yang tak bias ditinggalkan Romy, ia tak pernah mau kehilangan moment-moment dengan teman-temannya, Romy lebih menomorsatukan teman-temannya dibandingkan aku. Awalnya aku bias memaklumi dan berusaha mencoba menjalani apa adanya seperti yang Romy mau, namun akhirnya aku letih dan bosan sendiri.belakangan aku baru tau, ternyata Romy adalah seorang pemakai, karena itulah ia tak pernah siap berkomitmen dengan wanita manapun. Aku bias menerima segala kekurangan Romy karena cinta telah membutakan mataku, aku berharap bias membawa Romy keluar dari kehidupan yang akan menghancurkan hidupnya. Namun ternyata itu hanya harapan semata, Romy tak pernah berubah, bahkan ia menuntut aku agar mengerti, memahami dan menerima kehidupannya yang seperti itu. Aku bosan, letih dan jenuh dengan keadaan ini, kuingat saat aku mengajaknya untuk bicara soal hubungan kita, aku tak tau apakah Romy dalam pengaruh zat-zat itu atau tidak, tapi yang jelas saat itu Romy memutuskan aku. Aku kacau dan stress, ternyata apa yang aku harapkan dari hubungan ini tak pernah berhasil dan terwujud. Aku ingat terakhir aku bertemu Romy saat aku memutuskan untuk pindah ke Jogjakarta. Dengan berbagai penyesalan akhirnya aku pergi, namun 2 minggu setelah itu aku masih berharap bias menjalani hubungan dengan Romy lagi, tapi ternyata semua benar-benar pupus, Romy tak bias meninggalkan kehidupan kelamnya untuk aku. Aku kecewa, sedih dan menyesal. Sekelabat kenangan dan peristiwa lalu bermunculan di memori kepalaku, aku sadar mungkin ini adalah karma atas apa yang telah aku lakukan pada Arnold, aku telah meningglkan seseorang yang setia kepadaku hanya untuk seorang lelaki yang tak menghargai cintaku.
8 bulan setelah aku pindah ke Jogja, aku menerima undangan dari Arnold, kini ia telah mempersunting seorang wanita yang mungkin 1000 kali lebih baik dari ku. Aku sedih dan terpuruk, ini langkah yang salah yang telah kutempuh. Hingga saat ini ketika usiaku hamper kepala 4, ada sedikit penyesalan dan trauma yang aku rasakan, aku menyesal karena tak bias setia dan menghargai orang yang telah tulus mencintaiku. Tapi peristiwa 4 bulan yang lalu sempat membuat aku hampir tergugah, aku kembali bertemu Romy untuk yang pertama kali setelah hamper 8 tahun tak bertemu, ia tak seperti dulu, banyak yang berubah dari dirinya. Dan yang terakhir aku tau ternyata Romy juga belum menikah. Kami bicara banyak hal dalam pertemuan itu, tentang masa lalu, sampai pada akhirnya Romy mengutarakan niatnya untuk mengajakku menikah. Aku mungkin harus berpikir ribuan kali untuk menerimanya. Hatiku benar-benar hancur dan Romy orang yang ikut andil dalam semua ini.

Thursday, 19 June 2008

antropologi cerpen 1 : Biyan

Kami memang menikah muda, saat masih duduk di bangku kuliah semester 3 kami sudah memutuskan untuk menikah, terlalu muda dan tanpa pemikiran yang matang, aku dan Biyan memutuskan untuk hidup bersama. Memang tak mudah meyakinkan dua keluarga kami atas keputusan kami itu, bahkan aku sempat di curigai sudah berbadan dua saat itu, tapi kami bersikeras aku tidak hamil, dan kami ingin menikah karena kami sama-sama saling mencintai, dan kami tak ingin terpisah lagi. lalu cinta mengalahkan segalanya.
Saat itu usia aku dan biyan sama-sama 19 tahun, perkenalan pertama kami memang di bangku kuliah, dari hubungan pertemanan akhirnya berlanjut menjadi hubungan yang special. Aku sangat menyukai Biyan begitupun sebaliknya, setiap hari kami bertemu, pagi, siang, malam dan 24 jam waktu Biyan hanya untukku.kami sangat dekat dan rasanya sulit untuk terpisahkan lagi, meskipun begitu hubungan kami masih sering diwarnai dengan pertengkaran-pertengkaran yang hebat, alasannya satu, kami sama-sama tak bias di cuekin. Aku bias mati bila sehari saja Biyan tak menelpon ku.
Satu hal yang membuat kami dekat dan saling merasakan kami berdua adalah belahan jiwa. Aku sudah tau semua kekurangan Biyan, dan sebaliknya juga Biyan tau semua kekuranganku. Entah apa yang membuat kami merasa cocok, aku tau dari awal kuliah Biyan adalah seorang pemakai, tapi sedikitpun tak mengurangi rasa cintaku, kupikir saat itu aku masih bias merubah Biyan dan mengajak nya berhenti menjadi seorang pecandu. Sampai kami memutuskan untuk menikah aku tau Biyan masih seorang pemakai, hingga malam pertama kami pun harus aku lalui dengan melihat Biyan sakaw.
Biyan berhenti kuliah tapi aku masih tetap melanjutkan kuliahku hingga selesai, Biyan juga tak memiliki pekerjaan, kami tinggal menumpang di rumah orang tuanya. Keluarga Biyan memang keluarga berada, ayahnya adalah salah seorang pejabat di kota kami. Dia hanya dua bersaudara, sedari kecil kehidupan Biyan tak pernah susah, apapun yang diinginkan nya pasti dengan mudah ia dapatkan, tapi aku harus bekerja, memang bukan untuk menanggung kehidupan aku dan Biyan, aku akui…selama tinggal dirumah orang tuanya, aku dan Biyan memang tak kekurangan satu apapun, tapi aku tak mau seperti itu, aku harus bekerja, karena aku masih mengharapkan ada yang berubah dari hidup kami.
3 tahun perkawinan, aku masih melihat Biyan seperti saat masih kuliah, aku masih melihat Biyan pulang dengan bau minuman cap tikus dan dengan mata yang merah karena mengkonsumsi racun setan yang apalah aku tak tau zat-zat apa yang di asupkan ke tubuhnya. 2 tahun belakangan ini Biyan memang sudah bekerja, itupun karena relasi ayahnya yang membantunya masuk di salah satu perusahaan terbesar di kota kami. Tapi yang aku tak mengerti semua penghasilan Biyan ia habiskan hanya untuk membeli racun-racun itu. Karena aku sayang Biyan, aku bahkan tak pernah mempertanyakan penghasilannya. Sampai anak lelaki pertama kami Diandra lahir, Biyan masih seperti itu.saat aku melahirkan Diandra pun Biyan tak ada di sampingku. namun aku masih saja bersabar dan tetap berharap Biyan berubah. sampai kini saat Diandra berusia 3 tahun, sedikit pun tak ada perubahan dalam diri Biyan selain tubuhnya yang semakin kurus karena pengaruh racun-racun itu.tapi aku masih melihat kasih sayang Biyan untuk Diandra, aku akui Biyan adalah ayah yang baik untuk Diandra, meski tak sesempurna ayah-ayah yang lain, perhatiannya untuk Diandra tak ada yang bisa menandinginya.
seperti malam ini, aku masih belum tertidur menunggu Biyan pulang, hal ini aku lakukan setiap malam hingga kini memasuki 4 tahun perkawinan kami. setiap malam Biyan pulang dengan mata merah dan dalam keadaan mabuk, kalaupun bukan mabuk karena minuman keras, Biyan mabuk karena pengaruh obat-obatan itu. tapi kali ini Biyan pulang dengan keadaan tak seperti biasanya, Biyan pulang dengan raga tak bernyawa lagi terbujur kaku dan bisu, tubuhnya biru dan dari mulutnya keluar busa, aku menjerit histeris, dan tiba-tiba saja mataku gelap.
saat aku terbangun aku masih mendengar ayat-ayat suci dilantunkan, kulihat semua orang berpakaian hitam, aku mencari-cari dimana Diandra, tapi aku tak menemukannya. mataku kembali gelap dan aku jatuh pingsan lagi.
terik matahari terasa menggigit kulitku, aku bahkan tak bisa lagi membendung tangisku, Biyan pergi dalam keadaan seperti itu, hari ini di perkuburan Biyan aku tak kuasa melihat jasadnya di masukkan ke liang lahat itu. tubuhku lemas tak berdaya, bagaimana aku menjalani hidupku tanpa Biyan, dan bagaimana aku bisa membesarkan Diandara tanpa sosok ayah di sampingnya. Biyan...mengapa ini harus terjadi padaku.
puasa kali ini, aku dan Diandra benar-benar sendiri, aku harus terbiasa tanpa Biyan di sisiku, dan Diandra harus terbiasa tak memeluk ayahnya. aku sedih dan rapuh, hidupku terasa hampa, tapi Diandra adalah pelipur segalanya, tawanya, senyumnya dan celotehannya adalah Biyan dan dimatanya aku tau, Biyan ada di sana.
aku tak pernah menyesali semua ini, kepergian Biyan mungkin adalah takdir yang telah ditentukan untuknya. aku tak pernah merasa menjadi wanita yang tak beruntung di dunia ini, mengenal Biyan, meski tak punya banyak waktu hidup bersamanya, adalah satu anugerah yang sangat berarti untukku, meskipun aku telah gagal membawa Biyan keluar dari kehidupan kelamnya, aku adalah wanita yang beruntung, karena Biyan masih meninggalkan satu kenangan yang berharga untukku, yang bisa menjadi penyemangat dalam kehidupanku, yah...Diandra.