Showing posts with label all about korea. Show all posts
Showing posts with label all about korea. Show all posts

Friday, 30 September 2016

Scarlet Heart Ryeo: Wang So Dan Segala Hal Yang Membuat Kita Jatuh Cinta

Demam Scarlet Heart Ryeo tampaknya masih berlangsung cukup lama, gue adalah salah satu korban baper akibat nonton drama ini. 12 episode udah kita lalui bersama-sama dengan perasaan yang campur aduk, bahagia, sedih, tertawa, bahkan menangis bersama. Rasa luka, perih, pedih dan patah hati yang mendalam bahkan jadi pengalaman yang menyenangkan untuk dibahas bersama-sama dengan orang yang juga mengikuti jalan cerita Scarlet Heart Ryeo.

Gue memang terlalu emosional kalau bicara tentang drama ini. Terlihat lebay atau mungkin nggak penting bangetlah bagi orang yang nggak suka kdrama. You know me so well, gue nggak akan membahas tentang perbedaan dan pendapat orang-orang itu di sini!.


Sepanjang nonton drama ini, mata gue bahkan hati dan perasan gue langsung tercurah buat pangeran ke-4 Wang So. Segala apapun yang berhubungan dengan dia dalam cerita drama ini menjadi hal-hal yang nggak luput di pandang mata dan di rasakan. Ketika ia bahagia gue pun ikut merasakan kebahagiannya seperti sedang berada di taman bunga yang penuh warna, sebaliknya ketika ia terluka dan berdarah-darah hati gue juga serasa perih di cambuk-cambuk *bagian ini terlihat lebay* tapi memang itu kenyataannya, mungkin karena gue adalah penonton yang baik yang menghayati setiap adegan dan kata-kata dalam drama ini jadi feel nya merasuk ke ubun-ubun.


Kali ini gue pengen bicara tentang kepribadian Wang So mulai dari awal kemunculannya. Wang So mengenakan topeng untuk menutupi sebagian wajahnya. Seperti topeng yang menutupi bekas luka di wajahnya ia juga menutup diri dan  memiliki kepribadian yang dingin. Bukan hanya orang asing bahkan keluarganya melihat ia sebagai binatang yang buas dan mengerikan. 



Pada kenyataannya Wang So sangat disalahpahami, ia memiliki luka hati sejak kecil karena ia tidak pernah memiliki kasih sayang sebagai seorang anak dari ibunya. Ia adalah anak yang ditinggalkan, ia terus menerus dilecehkan dan dibuang ke gunung hingga ia harus melawan srigala-srigala untuk bertahan hidup.







Ia selalu merasa orang lain melihat dirinya menyeramkan sampai saat ia bertemu Hae Soo yang bisa mencairkan hatinya yang beku. Hae Soo dengan keberanian dan ketulusan yang dimilikinya telah benar-benar merubah Wang So menjadi sosok yang hangat. Tanpa rasa takut ia terus menemui Wang So yang sebelumnya bahkan berniat mengambil nyawanya. Wang So memang telah banyak menggunakan tangannya untuk menyakiti dan membunuh orang lain, ia bahkan tidak tau apa artinya disentuh  sampai ia bertemu Hae Soo.

Hae Soo tanpa rasa takut terus mengatakan hal-hal yang baik kepada Wang So, Perlahan ia mulai menyadari bahwa ia menyukai gadis itu, ia mulai tersenyum dan memikirkan Hae Soo. Kita bisa merasakan banyak cinta di matanya. Walaupun ia membuat begitu banyak kesalahan ketika ia mencium paksa Hae Soo, gue bahagia karena kemudian ia menyadari kesalahannya dan tidak akan melakukan hal itu lagi tanpa persetujuan Hae Soo. 

Hae Soo yang di dalam hatinya ada orang lain menempatkan hubungan mereka dalam status pertemanan dan mencoba menjelaskan perbedaan hubungan pertemanan dan percintaan, yang mengejutkan dari bagian ini Wang So tak lantas berkecil hati dengan apa yang dikatakan Hae Soo, gue senang karena Wang So sangat percaya diri dan bermuka tembok. Ia memperlakukan dengan baik segala hal yang ia anggap menjadi miliknya. Memang benar dia posesif selama Hae Soo tidak tertarik sama Baek Ah itu bukan masalah besar bagianya, karena Hae Soo dan Baek Ah adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya. Dari sini jelas terlihat bahwa jenis cinta yang terbaik adalah cinta yang bisa membangkitkan jiwa dan membuat kita merasa lebih dicintai, gue percaya cuma Wang So yang bisa melakukan itu.

Wang So memang kasar, nggak peduli bagaimana kita melihat karakternya yang kasar itu karena sebenarnya itu bagian dari perkembangan karakternya. Ia telah mengalami banyak kesulitan dan tanpa di sadari ia tumbuh menjadi seorang lelaki sejati yang tidak hanya lihai bermain pedang tetapi ia juga membuktikan bahwa ia lelaki sejati yang siap melindungi wanitanya. Ia menunjukkan cintanya dengan tindakan, semuanya datang secara alami dari dalam dirinya tanpa petunjuk atau arahan dari orang lain. Ia ingin menjadi kuat untuk melindungi Hae Soo karena dari Hae Soo ia belajar kehangatan manusia lainnya.






"Kau hanya harus mempersiapkan dirimu Hae Soo , karena kau adalah milikku".




"Whenever they're together it'so adorable and romantis. every moment they spend together is so beautiful and meaningful".






Fakta bahwa Wang So minum tiga cangkir teh beracun dan merasakan rasa sakit hanya untuk memastikan Hae Soo tidak akan dituduh mencoba membunuh putra mahkota. Dalam situasi ini kehidupannya sangat beresiko tapi Wang So bersedia menyerahkan hidupnya untuk melindungi orang yang ia cintai. Itu cukup membuktikan Wang So adalah orang yang percaya diri, kuat dan peduli terhadap orang-orang yang ingin ia lindungi. Ia bahkan melupakan penderitaannya yang bertahun-tahun itu  dan melupakan perasaanya sendiri ketika ia dibenci oleh semua orang.

Wang Soo memiliki jiwa yang besar ia selalu siap melindungi. Wang So adalah orang yang bisa diandalkan karena dia sangat setia. Ia adalah orang yang tak mengenal rasa takut. Ketakutan terbesar nya adalah melihat Hae Soo menderita.




Wang So tidak akan membiarkan Hae Soo menderita sendirian karena ia tau bagaimana rasanya sendirian tanpa harapan. Mereka saling peduli satu sama lain dan sangat jelas mereka berjuang keras untuk tidak membiarkan orang lain tau berapa banyak mereka menderita.


Meskipun ia tau dihati Hae Soo ada orang lain, dalam keadaan lemah ia masih datang menghampiri Hae Soo melakukan semua hal yang ia bisa lakukan untuk menghentikan eksekusi.


"that's nonsense, i'm not a pathetic man who drinks poison because of a girl". 
*He's not a good liar


Hae Soo mungkin berpikir ia jatuh cinta sama  Wang Wook, tapi kita bisa lihat dalam scene ini dia telah benar-benar jatuh cinta sama Wang So. Gue sangat bahagia karena setelah Wang Wook berbalik arah Wang So muncul tepat berada di sisinya. Dan adegan di bawah hujan ini jelas terlihat ada begitu banyak cinta dan kepedulian Wang So terhadap Hae Soo. Yes, he's a real man!




Gue berharap writter nim nggak merubah Wang So menjadi karakter raja yang jahat di episode-episode berikutnya. Walaupun telah tertulis dalam sejarah kalau raja Gwangjong adalah raja yang kejam. Gue percaya aja sih kalau pun akhirnya ia berubah menjadi jahat dan ambisius semua itu ia lakukan untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi. Entah seperti apa nanti endingnya gue nggak berani berspekulasi terlalu jauh, tapi paling nggak dari keseluruhan episode yang tersisa semoga aja ada episode untuk Wang Soo dan Hae Soo merayakan kisah cinta mereka. (\^O^/)

*Semua poto diambil dari google

Tuesday, 23 June 2015

Cerita Tentang Sumpit

Kesukaan gue sama drama Korea udah gak bisa diragukanlah, sampai-sampai ada bagian kecil dari kebiasaan orang di Korea sana yang gue bawa-bawa dalam kehidupan nyata. Salah satunya adalah kebiasaan makan pakai sumpit. Entah sejak kapan mulainya gue udah lupa, tapi yang jelas kebiasaan makan pake sumpit ini udah gue lakonin sejak lama.



Siapa sih yang gak kenal sumpit, menurut Wikipedia sumpit adalah alat makan yang berasal dari Asia Timur, dan banyak digunakan di negara-negara seperti China, Jepang, Korea dan juga Vietnam. Tapi sebenarnya di Indonesia juga sering dipakai ketika makan mie ayam, kwetiau atau mie goreng. 

Sejak kecil gue udah kenal sumpit, dulu dirumah nenek gue selalu ada sepasang sumpit yang sering di pakai untuk makan mie. Bahkan pernah gue dimarahin guru ngaji gara-gara sepasang sumpit dari kayu bergambar naga. Ceritanya gue mau pake itu sumpit sebagai alat penunjuk ayat Al-quran ketika belajar ngaji, jelas gak di bolehin lah sama guru ngaji gue.

Bagi orang Indonesia yang terbiasa makan menggunakan sendok, menggunakan sumpit mungkin masih ada yang canggung karena nggak terbiasa. Tapi ada juga sebagian orang yang memang sudah sangat lihai menggunakan sumpit, bisa karena terbiasa. Gue juga awal mulanya masih sangat kesulitan menggunakan sumpit pertama-tama belajar pakai sumpit ketika makan mie atau kwetiau, kemudian lama-lama  gue makin terbiasa memakai sumpit untuk jenis makanan lain.  Tapi nggak setiap makan gue harus menggunakan sumpit ya, nggak lah. Menurut gue yang paling nikmat makan adalah dengan menggunakan tangan tanpa sendok ataupun sumpit apalagi makan dengan lalap-lalapan.

Gue bisa menggunakan sumpit belajar secara otodidak, nggak jelas juga sih gue makeknya udah bener apa belom. Gue nggak pernah belajar serius atau sengaja baca tata cara pake sumpit gimana, itu nggak. Yang jelas setiap gue berhasil menjepit makanan dan memasukkan ke mulut tanpa ada yang jatuh berati gue udah bisa pake sumpit heheh...

Dulu setiap nonton film kungfu, gue selalu kagum dengan adegan sang pendekar yang dengan mudahnya menangkap lalat menggunakan sumpit. Tapi buat gue  fungsi sumpit bukan hanya sekedar buat gaya-gayaan biar berasa kayak Park Shin Hye yang lagi makan tteokbokki, selebihnya ada misi terselubung dari penggunaan sumpit itu sendiri. Apa itu? cekidottt...

Jadi ceritanya, gue selalu merasa punya masalah dengan berat badan yang susah turun tapi cenderung gampang naik. Untuk orang yang malas olahraga seperti gue, program diet menjadi salah satu program mutlak yang nggak boleh nggak di lakonin dalam hidup gue. Dari dulu gue bisa menjalankan diet dengan  cara yang gila-gilaan mulai dari nggak mengkonsumsi nasi sama sekali sampai-sampai yang lagi booming sekarang yaitu diet mayo. Tapi makin kesini gue mulai sadar diet yang gue jalanin bukan hanya sekedar pengen langsing melainkan lebih ke faktor kesehatan mengingat usia gue yang udah kepala tiga ini. *beda-beda tipis lah sama lee min ho yang kemaren ulang tahun ke 29 tahun.

Terus apa hubungannya dengan sumpit??

Ada...

Gue pernah baca di salah satu artikel bahwa makan dengan menggunakan sumpit bisa membantu proses menurunkan berat badan, karena dengan menggunakan sumpit makan menjadi lambat sehingga membantu mengurangi asupan makanan setidaknya bisa mengurangi asupan sekitar 25 kalori. Untuk orang yang obsesif seperti gue metode nyeleneh seperti ini tentu gue lakonin secara gue memang suka menggunakan sumpit sejak lama.

Sebelum punya sumpit yang terbuat dari logam, dulu gue memakai sumpit yang terbuat dari kayu atau plastik. Gara-gara sering lihat sumpit di drama Korea yang terbuat dari logam gue jadi kepengen punya. Waktu masih tinggal di Bangka memang agak sulit mencari toko yang menjual sumpit dari logam rata-rata mereka menjual sumpit kayu atau plastik. Sampai ketika gue jalan-jalan ke sebuah supermarket gue lihat di bagian pecah belah ada jual sumpit dari logam, gue lupa berapa harganya saat beli, semuanya ada 6 pasang sumpit. Dengan bahagia gue bawa pulang itu sumpit.


ini penampakan sumpit gue

Meskipun sumpit gue nggak seperti sumpit yang berasal dari Korea, ini adalah sumpit kesayangan gue. Sumpit ini sudah cukup lama gue simpan dari zaman masih gadis sampai gue bawa hijrah ke Jakarta setelah menikah. Tadinya pengen banget punya sumpit Korea yang dari stainless tapi setelah hunting-hunting di Onlineshop harganya mehong juga. Jadi diurungkanlah niatnya untuk beli. Next time mungkin bisa beli, kalo ada rezeki lebih.

Jadi itulah sedikit alasan kenapa gue sering memakai sumpit untuk beberapa waktu makan, selain memang suka ternyata banyak hal menarik juga mengenai sumpit. Secara garis besar etika penggunaan sumpit berlaku disemua negara walaupun ada perbedaan di sana-sini bergantung pada negara dan daerahnya. Seperti misalnya di Tiongkok dan Jepang, sumpit dipegang di bagian tengah dan digunakan secara terbalik (bagian pangkal sumpit dijadikan bagian ujung sumpit) sewaktu memindahkan makanan dari piring makanan ke mangkuk nasi tapi bukan ke mulut. Sedangkan di Korea cara memindahkan makanan dengan bagian pangkal sumpit justru dianggap tidak higienis. Selain itu sumpit dianggap tabu bila ditusukkan berdiri di dalam mangkok berisi nasi karena menyerupai Hio (dupa) yang dinyalakan untuk mendoakan arwah orang yang meninggal.

Tidak hanya itu, budaya makan menggunakan sumpit juga mempunyai latar belakang filosofis. Filsuf China yang terkenal mengatakan:

"Makan dengan sumpit juga merupakan suatu pendidikan kebudayaan, karena garpu, sendok, dan pisau bisa digunakan juga sebagai senjata untuk berperang dan membunuh orang. Oleh sebab itu, garpu, sendok, dan pisau tidak pantas berada di atas meja makan".
Confusius (551-479 SM)


*dari berbagai sumber