Showing posts with label lifestyle. Show all posts
Showing posts with label lifestyle. Show all posts

Saturday, 2 April 2016

Tentang Kata Maaf


"Semua orang pernah disakiti, dan salah satu kebahagiaan langka dalam hidup ini adalah melihat orang yang menyakiti kita menyadari kesalahannya".
Ini berhubungan dengan maaf memaafkan, dan gue mungkin salah satu manusia yang beruntung karena memiliki sifat yang mudah memaafkan dan melupakan kekhilafan orang lain. Eh ini bukannya sombong atau memuji diri sendiri ya berdasarkan pengalaman dan perjalanan hidup gue sampai diusia sekarang 32 tahun baik itu dalam hubungan asmara ataupun pertemanan pernah lah ya gue ngerasain di sakiti entah itu di khianati atau di dzolimi sama orang yang kita kenal. Kalau gue memiliki sifat dendam dan susah memaafkan mungkin gue nggak memiliki teman hingga saat ini, dan yang paling penting mungkin gue nggak bisa bahagia hingga detik ini karena sifat dendam yang bersarang dalam hati.

Pastinya semua orang pernah mengalami sakit hati. Kalau udah sakit begitu sebenarnya apa sih obatnya? minum herbal? atau ke dokter minta di suntik antibiotik khusus buat hati. Kalo masih belum mempan gimana? apa perlu kita melihat orang yang menyakiti kita merangkak dan memohon maaf di kaki kita.

Jawabannya sederhana aja sebenernya cuma satu kata yaitu "maaf", namun kata maaf ini sangat berat untuk di ucapkan kebanyakan orang yang melakukan salah entah itu karena gengsi atau karena egonya. Dan gue pastikan dunia ini akan jauh lebih damai jika yang bersalah berani mengakui kesalahannya dengan kalimat sederhana yaitu "maaf" dan yang di dzolimi berani melupakan sakit hatinya dengan mengucapkan "iya gue maafin"

Biar nggak berlarut-larut sakit hati dan timbulah dendam cara sederhana  menjalani kehidupan ini adalah dengan memaafkan baik itu dengan mulai memaafkan diri sendiri lalu kemudian memaafkan kesalahan orang lain yang telah diperbuat kepada kita. Dengan kata "maaf' dan "iya saya memaafkan" akan menghemat waktu dan menghindari perdebatan yang sia-sia hanya untuk membuktikan siapa yang lebih benar diantara yang mungkin tidak ada yang benar.

Sudahkah kita meminta maaf dan memaafkan hari ini?


dan saya pastikan dunia akan jauh lebih damai jika yang bersalah berani mengakui kesalahannya, dan menyejukkan perasaan semua orang dalam tiga patah kata ini :...maaf, saya salah. Barangkali inilah tiga patah kata yang paling memiliki pengaruh paling kuat selain Aku Cinta Kamu.. Menemukan si Mr Right, bukan berarti Mr Right itu bernama depan Always (atas nama persamaan gender, hal ini juga berlaku bagi Miss Right). Bayangkan betapa menyebalkan melihat wanita cantik, atau pria tampan yang selalu merasa diri paling benar dan paling cakep. Justru ketika si tampan dan si cantik berani mengatakan dengan kerendahan hati dan ketulusan, "maaf, saya salah." akan menjadikan yang cantik dan yang tampan menjadi sempurna dalam ketidak sempurnaan. Artinya anda sedang melihat keindahan dari manusia yang hidup, dan bukan mannequin. Pengadilan kita mungkin tidak akan membuang banyak waktu dan mengumpulkan lebih banyak saksi dan bukti-butki seandainya para koruptor atau sang terdakwa dengan berani menyatakan, " Maaf, saya salah yang Mulia. Kata kata Maaf saya tidak tahu yang Mulia, menyebabkan KPK kita harus bekerja extra keras, dan memakan waktu dan biaya yang lebih banyak, padahal ujung ujungnya tetap terbukti bersalah. Yuk kita kembali kepada cara cara yang lebih sederhana menjalani hidup ini dengan berani mengakui kesalahan, dan meminta maaf. Tiga kata sederhana Maaf, saya salah akan banyak menghemat waktu dalam perdebatan yang sia sia dan kehilangan esensi debat yang sebenarnya, hanya untuk membuktikan siapa yang lebih benar diantara yang (mungkin) tidak ada yang benar. Berbuat salah itu berarti kita masih hidup dan bernapas, dan siap menghadapi masa depan dengan lebih bijaksana dari hari ke hari. Mengakui kesalahan itu mulia.., karena dengan mengakui kesalahan , kita menyatakan bahwa kita ini hanya manusia biasa yang bisa keliru, dan yang tidak pernah keliru itu hanya Tuhan. Bukankah itu tujuan kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia ?. Memuliakan Tuhan lewat kehidupan nyata, dan mengakui bahwa kita bisa salah, dan yang selalu benar itu hanya Tuhan.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/benedict/berbuat-salah-itu-manusiawi-mengakui-kesalahan-itu-mulia_551b90afa33311f728b659d4

Lalu apa yang harus dilakukan jika sudah berbuat salah ?. Sederhana sekali, dan saya pastikan dunia akan jauh lebih damai jika yang bersalah berani mengakui kesalahannya, dan menyejukkan perasaan semua orang dalam tiga patah kata ini :...maaf, saya salah.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/benedict/berbuat-salah-itu-manusiawi-mengakui-kesalahan-itu-mulia_551b90afa33311f728b659d4
Lalu apa yang harus dilakukan jika sudah berbuat salah ?. Sederhana sekali, dan saya pastikan dunia akan jauh lebih damai jika yang bersalah berani mengakui kesalahannya, dan menyejukkan perasaan semua orang dalam tiga patah kata ini :...maaf, saya salah.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/benedict/berbuat-salah-itu-manusiawi-mengakui-kesalahan-itu-mulia_551b90afa33311f728b659d4

Saturday, 3 October 2015

Cerita Tentang Dapur Kami



"Setiap rumah tangga pasti punya cerita dan punya rahasia tentang dapur mereka. Dapur bukan hanya tempat untuk memasak dan mengolah makanan, bukan pula tempat untuk memajang perabotan yang hanya sekedar tau saja kegunaannya untuk apa. Lebih dari itu dapur adalah tempat yang penuh cerita. Ada suka, duka, pahit, asam, manis dan asin. Dari sanalah kreatifitas tercipta".


Dapur bagi gue merupakan ruangan yang paling nyaman untuk berekspresi. Dari sana biasanya sering muncul ide-ide yang tak terduga. Bercerita tentang dapur, gue ingat sekali dapur dirumah kami yang lama. Dulu dapur kami sangat luas berhadapan langsung dengan ruang makan dan taman belakang rumah yang dilengkapi dengan kolam ikan dan koleksi ikan-ikan Koi milik ayah. Dapur kami sangat adem karena terdapat ruang terbuka  hijau di sisi ruang makan jadi udara bisa dengan leluasa masuk. Tapi sayangnya dulu dapur kami sangat jarang digunakan untuk memasak dan ruang makan kami sangat jarang digunakan untuk makan bersama karena kesibukan ayah dan emak yang bekerja dari pagi sampai petang baru balik kerumah dan adik satu-satunya yang tidak tinggal bersama karena sedang kuliah di Jogja hingga terkadang gue hanya di temani alm. nenek yang memang sering menginap dirumah. 

Dapur di rumah kami yang sekarang sangat kecil, 7 tahun sudah kami sekeluarga pindah ke rumah yang baru yang letaknya dekat dengan kota karena rumah yang lama sengaja di jual ayah dengan alasan letak rumah yang kurang strategis untuk membangun usaha rumahan. Dapur rumah kami sangat minimalis, saking minimalisnya bahkan nggak bisa menampung banyak barang. Dapur kami hanya dilengkapi perabotan seadanya aja, Gak ada kitchen set atau meja batu keramik yang mewah disana hanya ada meja kayu, sebuah kompor gas dan dua tungku kayu yang memang sering dipakai ketika Emak memasak dalam jumlah banyak semisal ada acara keluarga ataupun acara di Masjid. 

Tungku kayu bagi sebagian masayakat memang sudah banyak ditinggalkan, masih ada yang pake tapi paling masyakat yang tinggalnya di daerah pedesaan. Tapi emak gue masih sering memakai tungku kayu dengan alasan sederhana "hemat gas" heheheh... .Sebenarnya kata orang tua jaman dahulu masakan yang dimasak dengan api kayu lebih enak dibandingkan makanan yang dimasak dengan kompor gas. Ah.... entahlah gue belum menemukan perbedaaan itu tapi yang jelas memakai tungku kayu ada kelebihan dan kekurangannya juga sih. 

Di dapur rumah kami yang sekarang, meskipun tak seluas dan sebagus dapur kami yang lama setiap hari selalu ada asap yang mengebul, selalu ada aroma dan bau masakan lezat, selalu ada canda tawa dan cerita di meja makan, dan selalu ramai dengan suara radio yang di putar emak untuk menemaninya memasak. Setelah memutuskan pensiun dari kegiatan sehari-harinya emak dan ayah lebih sering berada dirumah. Memasak, ngobrol, makan bersama, atau sekedar bersenda gurau lebih sering dilakukan di dapur dibanding ruang keluarga. Ada kerabat yang datang kerumah pun lebih sering berkumpul di dapur dibandingkan ruang lainnya.

Dari kecil gue sangat senang melihat kepiawaian emak di dapur, ada saja yang ia lakukan disana entah itu memasak lauk ataupun membuat berbagai macam cake dan cemilan enak lainnya. Gak lama kemudian tau-tau sudah ada aja makanan lezat yang di hidangkan di meja makan.


Setiap anak pasti setuju kalau masakan ibunya adalah masakan yang paling lezat sedunia, bahkan masakan Cheff yang paling handal pun tak bisa mengalahkan nikmatnya masakan ibu. Karena  sejauh apapun si anak melangkah pasti yang dirindukan ketika pulang adalah masakan ibu. Demikian juga gue, bagi gue masakan yang paling enak dan pas di hati  cuma masakan emak. Bahkan setiap pulang kampung gue selalu minta dimasakin macem-macem saking rindunya sama masakan rumah. Entah kenapa kalau emak yang masak telor ceplok pun terasa nikmat.


Hidup di perantauan dan jauh dari kampung halaman terkadang sering bikin gue rindu sekali dengan masakan rumah. Biasanya dalam seminggu gue selalu sempatkan memasak makanan asli dari daerah asal gue pulau Bangka, atau sesekali mencontek resep emak. 
Gue selalu cinta masakan rumah, di tangan emak semua jenis makanan, komposisi dan takaran selalu pas. Tangan emak begitu tulus menyajikan setiap makanan yang dimasak untuk dinikmati bersama, begitu ikhlas melakukan apa yang sudah menjadi kewajibannya. Dari emak gue ingin belajar banyak cara mengolah makanan, bahkan bukan hanya sekedar belajar memasak dari emak juga gue ingin belajar tentang apa itu ketulusan dan keikhlasan. Gue ingin nantinya anak dan suami gue selalu rindu dengan masakan gue, selalu pulang dan kembali ke gue hanya untuk menikmati masakan gue. Gue ingin menciptakan sejarah dalam keluarga kecil gue. keinginan yang sederhana bukan??

Semoga sesegera mungkin gue bisa memiliki dapur sendiri, heheh... maklum sekarang masih minjem dapur mertua. Punya dapur sendiri tentu lebih menyenangkan dengan begitu gue bisa berkreasi dengan beragam jenis makanan, yahhh... setidaknya gue harus berhasil menjadi Cheff bagi keluarga gue sendiri.

Bagaimana cerita dapur dirumah kalian??




Sunday, 20 September 2015

Oldies Song: Bicara Musik Bicara Selera



Suara The Beatles mengalun-alun merdu membawakan lagu lawasnya yang berjudul Michelle, sengaja gue putar malam ini di playlist gue untuk membantu gue mengingat-ingat kembali masa-masa kecil gue yang indah ketika pertama kali di cekokin lagu-lagu barat lawas kesukaan ayah. Seperti biasa gue hanya akan memutar satu lagu ini secara berulang-ulang dalam playlist gue untuk setiap lagu yang gue suka. Sejak dulu gue selalu suka mendengarkan musik-musik era tahun 80-an dan  90-an dibandingkan musik-musik jaman sekarang. Iya gue emang jadul dan kuno setidaknya itulah yang dikatakan sepupu gue ketika ia melihat koleksi MP3 milik gue. Banyak yang bilang selera gue payah karena lagu-lagu yang gue suka kebanyakan yang oldies. Padahal ketika lagu ini muncul gue bahkan belum lahir.

Waktu itu usia gue baru 7 tahun, seperti biasa rumah kami yang kecil selalu ramai dengan alunan-alunan musik dari Tape Deck milik ayah. Setiap hari yang diputar adalah lagu-lagu barat lama seperti lagu-lagunya Daniel Sahuleka, Lucifer, Glen Frey, Shakin Steven, Leo Sayer, Peter Cetera dan masih banyak lagi, sesekali juga di selingi lagu-lagu dangdut favorit ayah seperti lagu-lagu koleksinya Haji Rhoma Irama, Muchsin Alatas dan juga penyanyi dangdut lainnya.

Dulu rumah kami nggak memiliki televisi, entah karena alasan apa orang tua gue lebih senang mendengar radio atau memutar lagu dari kaset ketimbang nonton televisi, apa mungkin karena zaman dulu hanya ada satu stasiun televisi TVRI aja yang siarannya hanya sampai pukul 21.00 malam, setelah program Dunia Dalam Berita layar televisi langsung dipenuhi semut. Nggak seperti sekarang siaran televisi 24 jam dengan beragam acara dari banyak stasiun TV yang menghadirkan banyak pilihan. 

Ngomongin tentang musik atau lagu, gue sering semacam de javu gitu kalau tiba-tiba mendengarkan kembali lagu-lagu yang lama nggak gue dengerin lagi, kalau sudah begitu tiba-tiba rasa rindu pun meluap-meluap ingin kembali lagi menjadi penyiar radio seperti dulu. Menyapa pendengar dan memutar lagu-lagu permintaan pendengar. Dulu gue sangat bahagia banget serasa menemukan dunia sendiri ketika diterima bekerja di Radio Sonora yang memang memiliki program acara yang khusus memutar lagu-lagu oldies favorit gue. Walaupun harus menemani para pendengar yang rata-rata seangkatan ayah gue, tapi gue happy banget apalagi yang mereka request adalah juga termasuk lagu yang gue suka. Secara gak langsung pengetahuan gue tentang lagu dan penyanyi oldies juga bertambah karena dekat dengan pendengar oldies.

Percaya nggak kalau sebuah lagu juga ternyata mampu membangkitkan memori atau kenangan seseorang. Seperti sabtu kemarin pas lagi main ke pasar Taman Puring, tiba-tiba ada yang puterin lagu Father yang dinyanyiin sama penyanyi lama Peter, Sue and Marc. Lagu ini ngingetin gue sama emak gue yang pernah excited banget ketika gue muterin lagu ini waktu dulu masih jadi penyiar radio. Usut punya cerita ternyata lagu ini adalah lagu favorit dia banget ketika masih remaja, emak gue bilang udah lama banget gak dengerin lagu ini pas dia denger lagi matanya sampai beraer. Wow ternyata begitu  dahsyat kekuatan sebuah lagu yang bisa menjadi daya pengingat terhadap suatu hal yang jarang di pikirkan. 




Yang belum pernah mendengarkan lagi Father ini, ini gue kasih playlistnya. Lagunya sangat easy listening.

Gue dan suami memiliki selera yang beda soal musik favorit, suami lebih suka dengerin lagu-lagu tahun 90-an seperti Oasis tapi suami gak pernah komplain setiap gue muterin lagu-lagu favorit gue. Ada satu radio di Jakarta yang gue suka dengerin kalau malem-malem. Gue sering lupa nyebutin namanya dan ngingetin berapa frekuensinya. Kadang kalau sengaja putar tombol tuning untuk nyari malah nggak dapet. Radio ini sering muterin lagu-lagu lawas kalau malam hari dimulai sekitar pukul 22.00 malam. Gue suka banget lagu-lagu yang diputerin apalagi suara penyiarnya dan cara pembawaannya nancep banget di hati gue. 

Semenjak nggak jadi penyiar radio lagi, ingatan gue tentang lagu-lagu dan penyanyi barat era 80-an hanya sebatas koleksi MP3 yang gue punya aja. Kadang suka download atau sengaja googling nyari lagu apa aja yang bagus yang belum pernah gue dengerin. Seperti kemarin dapet judul lagu Starry Starry Night nya Don McLean yang jadi soundtrack drama Korea angel Eyes dari mbak Della Firayama. Langsung gue download karena emang suka. Dan ini beberapa list lagu lawas yang sering bikin gue CLBK. 

Ebony & Ivory - by Stevie Wonder & Paul Mccartney
Have You Ever Been In love - by Leo Sayer
My Love, My Love - by Jeri Logan
Hard To Say I'm Sorry - by Chicago
Fly Away - by Stevie Wood
All Iam - by Heatwave
I've Never Been To Me - by Charlene
One Day In Your Live - by Michael Jackson
House for Sale - by Lucifer
I Love You - by Sofie
Dont Sleep Away this Night My Baby - Daniel Sahuleka
Making Love - by Roberta Flack
Only You - by The Platters
What I Like About You - by The Romantics
Lady - by Kenny rogers
Mother How Are you Today - by Maywood

Lagu-lagu lawas seperti ini memang asyik didengarkan di malam hari sebagai musik pengantar tidur, atau di pagi hari menamani waktu sarapan meneyeruput teh hangat sambil menikmati sinar mentari pagi, lebih syahdu lagi didengarkan ketika ditemani hujan gerimis aihhh.... rasanya berguguran semua beban-beban di pundak yang dirasakan sepanjang hari kemarin. Lagu oldies, hujan dan cuaca dingin yang sangat gue suka selalu bisa bikin gue betah berlama-lama menikmatinya.


Musik adalah karya seni yang baik dan tinggi nilai estetikanya. Musik merupakan seni surgawi yang mampu menyentuh perasaan dan  musik adalah pedoman karena syairnya dapat berisi pesan, perintah dan isyarat tertentu. Keindahan dapat terjalin ketika ritme, melodi dan harmoni menyatu dalam keteraturan. Karena alam semesta pun merupakan keseluruhan yang teratur sesuatu yang harmonis seperti musik.

- Plato -

Tuesday, 23 June 2015

Cerita Tentang Sumpit

Kesukaan gue sama drama Korea udah gak bisa diragukanlah, sampai-sampai ada bagian kecil dari kebiasaan orang di Korea sana yang gue bawa-bawa dalam kehidupan nyata. Salah satunya adalah kebiasaan makan pakai sumpit. Entah sejak kapan mulainya gue udah lupa, tapi yang jelas kebiasaan makan pake sumpit ini udah gue lakonin sejak lama.



Siapa sih yang gak kenal sumpit, menurut Wikipedia sumpit adalah alat makan yang berasal dari Asia Timur, dan banyak digunakan di negara-negara seperti China, Jepang, Korea dan juga Vietnam. Tapi sebenarnya di Indonesia juga sering dipakai ketika makan mie ayam, kwetiau atau mie goreng. 

Sejak kecil gue udah kenal sumpit, dulu dirumah nenek gue selalu ada sepasang sumpit yang sering di pakai untuk makan mie. Bahkan pernah gue dimarahin guru ngaji gara-gara sepasang sumpit dari kayu bergambar naga. Ceritanya gue mau pake itu sumpit sebagai alat penunjuk ayat Al-quran ketika belajar ngaji, jelas gak di bolehin lah sama guru ngaji gue.

Bagi orang Indonesia yang terbiasa makan menggunakan sendok, menggunakan sumpit mungkin masih ada yang canggung karena nggak terbiasa. Tapi ada juga sebagian orang yang memang sudah sangat lihai menggunakan sumpit, bisa karena terbiasa. Gue juga awal mulanya masih sangat kesulitan menggunakan sumpit pertama-tama belajar pakai sumpit ketika makan mie atau kwetiau, kemudian lama-lama  gue makin terbiasa memakai sumpit untuk jenis makanan lain.  Tapi nggak setiap makan gue harus menggunakan sumpit ya, nggak lah. Menurut gue yang paling nikmat makan adalah dengan menggunakan tangan tanpa sendok ataupun sumpit apalagi makan dengan lalap-lalapan.

Gue bisa menggunakan sumpit belajar secara otodidak, nggak jelas juga sih gue makeknya udah bener apa belom. Gue nggak pernah belajar serius atau sengaja baca tata cara pake sumpit gimana, itu nggak. Yang jelas setiap gue berhasil menjepit makanan dan memasukkan ke mulut tanpa ada yang jatuh berati gue udah bisa pake sumpit heheh...

Dulu setiap nonton film kungfu, gue selalu kagum dengan adegan sang pendekar yang dengan mudahnya menangkap lalat menggunakan sumpit. Tapi buat gue  fungsi sumpit bukan hanya sekedar buat gaya-gayaan biar berasa kayak Park Shin Hye yang lagi makan tteokbokki, selebihnya ada misi terselubung dari penggunaan sumpit itu sendiri. Apa itu? cekidottt...

Jadi ceritanya, gue selalu merasa punya masalah dengan berat badan yang susah turun tapi cenderung gampang naik. Untuk orang yang malas olahraga seperti gue, program diet menjadi salah satu program mutlak yang nggak boleh nggak di lakonin dalam hidup gue. Dari dulu gue bisa menjalankan diet dengan  cara yang gila-gilaan mulai dari nggak mengkonsumsi nasi sama sekali sampai-sampai yang lagi booming sekarang yaitu diet mayo. Tapi makin kesini gue mulai sadar diet yang gue jalanin bukan hanya sekedar pengen langsing melainkan lebih ke faktor kesehatan mengingat usia gue yang udah kepala tiga ini. *beda-beda tipis lah sama lee min ho yang kemaren ulang tahun ke 29 tahun.

Terus apa hubungannya dengan sumpit??

Ada...

Gue pernah baca di salah satu artikel bahwa makan dengan menggunakan sumpit bisa membantu proses menurunkan berat badan, karena dengan menggunakan sumpit makan menjadi lambat sehingga membantu mengurangi asupan makanan setidaknya bisa mengurangi asupan sekitar 25 kalori. Untuk orang yang obsesif seperti gue metode nyeleneh seperti ini tentu gue lakonin secara gue memang suka menggunakan sumpit sejak lama.

Sebelum punya sumpit yang terbuat dari logam, dulu gue memakai sumpit yang terbuat dari kayu atau plastik. Gara-gara sering lihat sumpit di drama Korea yang terbuat dari logam gue jadi kepengen punya. Waktu masih tinggal di Bangka memang agak sulit mencari toko yang menjual sumpit dari logam rata-rata mereka menjual sumpit kayu atau plastik. Sampai ketika gue jalan-jalan ke sebuah supermarket gue lihat di bagian pecah belah ada jual sumpit dari logam, gue lupa berapa harganya saat beli, semuanya ada 6 pasang sumpit. Dengan bahagia gue bawa pulang itu sumpit.


ini penampakan sumpit gue

Meskipun sumpit gue nggak seperti sumpit yang berasal dari Korea, ini adalah sumpit kesayangan gue. Sumpit ini sudah cukup lama gue simpan dari zaman masih gadis sampai gue bawa hijrah ke Jakarta setelah menikah. Tadinya pengen banget punya sumpit Korea yang dari stainless tapi setelah hunting-hunting di Onlineshop harganya mehong juga. Jadi diurungkanlah niatnya untuk beli. Next time mungkin bisa beli, kalo ada rezeki lebih.

Jadi itulah sedikit alasan kenapa gue sering memakai sumpit untuk beberapa waktu makan, selain memang suka ternyata banyak hal menarik juga mengenai sumpit. Secara garis besar etika penggunaan sumpit berlaku disemua negara walaupun ada perbedaan di sana-sini bergantung pada negara dan daerahnya. Seperti misalnya di Tiongkok dan Jepang, sumpit dipegang di bagian tengah dan digunakan secara terbalik (bagian pangkal sumpit dijadikan bagian ujung sumpit) sewaktu memindahkan makanan dari piring makanan ke mangkuk nasi tapi bukan ke mulut. Sedangkan di Korea cara memindahkan makanan dengan bagian pangkal sumpit justru dianggap tidak higienis. Selain itu sumpit dianggap tabu bila ditusukkan berdiri di dalam mangkok berisi nasi karena menyerupai Hio (dupa) yang dinyalakan untuk mendoakan arwah orang yang meninggal.

Tidak hanya itu, budaya makan menggunakan sumpit juga mempunyai latar belakang filosofis. Filsuf China yang terkenal mengatakan:

"Makan dengan sumpit juga merupakan suatu pendidikan kebudayaan, karena garpu, sendok, dan pisau bisa digunakan juga sebagai senjata untuk berperang dan membunuh orang. Oleh sebab itu, garpu, sendok, dan pisau tidak pantas berada di atas meja makan".
Confusius (551-479 SM)


*dari berbagai sumber


Saturday, 23 May 2015

Mengubah Gaya Hidup: Ketika Gue Menjajal Rawfood


Di tengah cuaca panas Jakarta yang tak bersahabat, tiba-tiba suami gue bilang kalo hari ini dia lagi belajar memulai hidup tanpa rokok. Wow.... gue kaget dong dengernya, antara percaya nggak percaya.
"Emang bisa"? langsung pertanyaan terlontar dari mulut gue. 
"Harus bisa bund, tapi kepala ayah pusing nih" sambungnya. 
"Harus bisa dong yah, kalo mulutnya terasa asem ngemut permen aja kalo nggak ngemut garam aja tuh" kata gue lagi sambil bercanda. 

Dari dulu gue udah sering cerewetin suami masalah rokok apalagi kalau dia ngerokok abis makan atau sebelum tidur sebel banget gue sama kebiasaannya itu. Pernah gue dengan sepenuh hati minta suami untuk ninggalin rokoknya ketika baru-baru menikah namun dengan perlahan suami bilang itu butuh proses dan dia bilang lebih duluan kenal rokok dibanding kenal sama gue. Gue sewot dong di jawab begitu, ibarat seseorang yang gak bisa melepas bayangan cinta pertama nya aja. 

Siapapun tau jeleknya rokok untuk kesehatan, nggak usah gue jelasin panjang lebarlah. Kalo inget dulunya gue ngarep banget dapet suami yang gak ngerokok karena gue nggak suka rokok dan orang yang merokok. Pendapat gue tentang rokok masih sama seperti dulu dan gue nggak akan terpengaruh cuman karena ngeliat sekeliling pada merokok. Gue udah hidup 30 tahun lebih di lingkungan "berkabut pekat" dan tetep gue nggak pernah kepikiran untuk merokok. Kadang orang punya alibi rokok bisa menjernihkan otak yang sedang kusut, stress bisa ilang hanya dengan sebatang rokok. Gue nggak pernah tau itu teori dari mana, semua berasal dari kebiasaan sih menurut gue. Untuk menggantikan fungsi pensieve yang paling mantep buat gue adalah Indomie super pedas dan segelas air es. Those two will help me clear my mind.

Hari ini kelihatan banget suami gue agak-agak gelisah gitu, mungkin dia galau mau ngerokok lagi apa nggak. Gue bilang ke suami begitulah yang juga gue rasakan kalau lagi diet antara mau makan apa nggak. Sulit banget untuk menahan nafsu. Jadi butuh banget support dari orang terdekat. Soalnya suami gue sangat nggak mendukung gue diet, dia masih suka godain gue ngajak makan Indomie di tengah malem buta. Tapi untuk ninggalin rokok gue selalu mensupport niat baiknya ini. Semoga aja suami gue bisa melalui hari-hari sulitnya lepas dari jeratan cinta pertama nya itu. 

Sama dengan suami yang sedang berusaha menghilangkan rokok dalam kehidupannya, gue pun demikian sedikit demi sedikit mulai belajar meninggalkan kebiasaan buruk gue. Semenjak menikah dan punya anak gue mulai belajar merubah pola makan, emang sih niat utama gue adalah mau menurunkan berat badan gue yang udah mencapai angka paling horor dalam hidup gue. Habis melahirkan dan sekarang Raheesa udah 2,5 tahun gue belum berhasil menurunkan berat badan ke angka semula. Biar dikatain pelit gue nggak akan membocorkan angka horor tersebut. Keturunan keluarga gue memang punya rangka badan yang gede jadi walaupun gue kurus kalau ditimbang angkanya pasti gede diatas 55 kg. Kalau ngewarisin emak gue mungkin gue nggak ada bakat gemuk karena keturunan dari Emak gue badannya langsing-langsing. Gue mungkin mewarisi bakat subur dari sebelah Ayah gue, punya paha lebar, lengan lebar dan belulang perut yang tebal.

Kalau dulu gue masih bisa makan sembarangan, gorengan, baso, somay dan semua jajanan diluar sana, tapi kali ini gue mulai belajar putus hubungan dengan semua makanan enak itu. Mau nggak mau gue harus mulai sebelum berat badan gue mencapai angka yang paling mengerikan. Apalagi sekarang gue sering ngeluh pusing setiap habis makan seafood. Gue takut kolestrol tinggi dan obesitas kalau gue terus-terusan makan tanpa sadar itu baik apa nggak untuk tubuh gue. Berbagai metode diet udah gue coba mulai dari Food Combining, diet golongan darah, OCD nya Dedy Corbusier, Diet mayo tanpa garam, diet detoks sampai diet ekstreem tanpa nasi dan gula. Namun metode diet yang berbeda-beda itu membingungkan gue sampai gue menemukan metode terbaik hingga akhirnya sampailah gue ke "Rawfood".

Salah satu yang menginspirasi gue adalah artis Sophie Navita, istrinya Pongki Baratha ini mengubah pola hidupnya menjadi pecinta Rawfood yaitu hanya makan buah dan sayuran mentah atau sayuran yang hanya dimasak dengan suhu rendah. Menurut mbak Sophie pola makan rawfood ini banyak banget manfaatnya untuk kesehatan. Sejak ia merubah pola makannya ia sekeluarga mengalami banyak perubahan mulai dari tubuh yang ramping juga bonus kulit yang sehat. Gue pernah nonton dia disalah satu acara dan mulai saat itu gue rajin banget ngintip Instagram nya dan baca blognya dari situ gue terinspirasi pengen hidup sehat dan menjajal Rawfood. Nggak usah gue jelasin disini ya apa itu Rawfood karena gue pun belum 100% Rawfood dan terkadang masih suka bablas makan sembarang. Kalau pengen tau bisa baca blognya mbak Sophie atau searching di Google.



Gue bisa beradaptasi dengan jenis makanan Rawfood karena pada dasarnya sejak kecil gue adalah Fruitarian addict dan pecinta sayur-sayuran. Dari kecil gue udah suka banget makan lalapan jadi gue nggak pernah masalah dengan makan sayuran mentah. Untuk sekarang mungkin gue menerapkan dulu ke diri gue sendiri karena kalau ingin mengajak keluarga harus punya komitmen yang kuat "everybody harus berubah" begitulah yang gue tanamkan dalam diri gue. Untunglah suami gue makannya nggak neko-neko, nggak punya makanan favorit selain jengkol, jadi masih bisa di ajak makan sehat. Dan untuk Raheesa dari pertama MPASI udah gue kenalin buah-buahan dan sayuran jadi sampai sekarang nggak ada masalah makan sayur dan buah semuanya di hajar. 

Sayuran favorit gue adalah brokoli dan mentimun, selain mudah diolah dua jenis sayuran ini cukup mengenyangkan. Cara mengolahnya pun sangat sederhana. Kalau timun biasanya gue bikin acar dan untuk brokoli cukup di rendam dengan air panas 1 menit terus ditaburin bawang putih yang digoreng dengan minyak zaitun. Kalau iseng pengen ngemil biasanya gue ngemil makanan olahan dari buah-buahan seperti alpukat dan tomat, minum smoothie campuran buah dan sayuran juga jadi favorit gue. Atau kalau lagi pengen yang legit-legit gue  bikin pisang bakar madu yang ditaburin bubuk kayu manis.

Beberapa contoh makanan olahan gue:
A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

Awal-awalnya agak sedikit susah menyesuikan diri dengan pola makan yang aneh begini. Kesulitannya ketika menghidangkannya untuk suami, dia selalu bertanya "ini apa" dan gue kalau males ngejelasin hanya bilang "udah makan aja". Dasar suami gue orangnya nggak pernah komplain dengan masakan istri jadi apapun yang gue kasih semua dimakan. Tapi setiap hari selain menghidangkan Rawfood gue masih masak makanan lain misalnya ayam opor, sop, sambel dan goreng-gorengan untuk suami. Masih belum bisa 100 % Rawfood, masih abal-abal lah tapi apa salahnya mencoba beralih ke pola makan sehat kalau sebenarnya itu yang dibutuhkan oleh tubuh. 

Sekarang kalau belanja daftar barang utama yang gue beli adalah sayuran dan buah-buahan. Gue bahagia banget kalau di kulkas gue banyak stok buah dan sayur. Memang pengeluaran bulanan agak sedikit membengkak karena dua hari sekali paling nggak gue harus belanja buah dan sayuran segar dan gue setiap hari juga harus masak yang berbeda-beda untuk suami dan Raheesa karena Rawfood tidak dianjurkan untuk anak-anak.

Hampir 2 bulan menjajal Rawfood, yang paling gue rasain banyak perubahannya adalah gue gak pernah ngeluh pusing dan BAB gue lancar. Masalah utama gue sebenarnya ada di sistem pencernaan karena dulu gue hanya bisa BAB setiap dua atau tiga hari sekali.

"masih tertarik sate padang sih sebenarnya, batagor di pertigaan komplek juga enak tuh, apalagi mpek-mpek kapal selam yang kuahnya sangat menggoda itu". Dan ajakan suami makan bakmi bangka terkadang masih sulit untuk di tolak. Begitu susahnya menepis nafsu, apalagi urusan perut. Namanya juga belajar harus bisa menahan diri. Ini bukan buat gaya-gayaan atau sekedar ngikutin trend biar disebut kekinian, lebih ke masalah pilihan dan keinginan untuk hidup lebih baik.


"Rawfood itu adalah pilihan, kalau orang-orang suka dan cocok, kenapa tidak dicoba. Tugasnya adalah makan berkesadaran, karena gue percaya makanan enak itu hanya enak dilidah saja". 

#edisimensupportdiri