Showing posts with label gaya hidup. Show all posts
Showing posts with label gaya hidup. Show all posts

Monday, 5 October 2015

Olahraga Mudah Di Rumah Dengan N+TC App



Olahraga? hah... kalau ditanya kapan terakhir melakukan olahraga  mungkin gue agak kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini ketimbang pertanyaan lain semisal kapan terakhir makan? atau lagi nonton drama apa saat ini?. Yupss.... untuk ibu rumah tangga profesional seperti gue yang memiliki jadwal padat merayap  dari matahari terbit hingga terbenam lagi sepertinya olahraga menjadi salah satu kegiatan yang mustahil bisa dilakukan disela-sela tugas IRT yang menumpuk, mulai dari nyiapin bekal suami, buatin sarapan, mandiin anak, nyuci, nyapu, ngepel, belanja, memasak, nonton infotainment, ngejemur, ngegosok dan nonton drama. 

Jadi boro-boro mau ngegym ke tempat fitness atau ngikut mertua senam yoga bareng ibu-ibu komplek, semuanya sangat mustahil dilakukan mengingat jam terbang sebagai IRT sangat padat apalagi kalau disela-sela aktifitas tiba-tiba banyak iklan yang lewat, semisal Raheesa tiba-tiba pup, atau ketika ia lagi berkelakukan geje, ambekan minta ini minta itu sementara gue masih megang sodet di tangan sibuk berdansa dengan teflon diatas kompor. Arghhhh..... jadilah olahraga merupakan kegiatan nomor kesekian yang nggak gue prioritaskan dalam hidup gue.

Padahal kalo diingat dulu zaman SMP gue merupakan salah satu atlit senam di sekolah setiap ada lomba-lomba senam gue selau diikutsertakan dan selalu jadi instruktur senam setiap ada jam SKJ. Gue selalu aktif dalam setiap ekskul olahraga mulai dari basket sampai renang. waktu masih gadis pun selalu rajin ngikutin emak aerobik di sanggar senam atau sekedar joging sore-sore ngiderin bukit di lapangan golf. Semenjak menikah dan punya anak memang agak sulit mencuri-curi waktu untuk olahraga, paling setiap sabtu minggu aja suami ngajak lari pagi keliling komplek. Dan gue sadar itu nggak maksimal banget untuk membakar kalori yang ada dalam tubuh gue ini, mengingat gue  kesulitan banget untuk menurunkan berat badan ke angka semula setelah melahirkan. Aduhhh.... Raheesa udah mau 3 tahun tapi berat badan gue nggak turun-turun barang sekilo pun walaupun udah mencoba berbagai metode diet kalau nggak dibarengi sama olahraga tetap aja boong, ibarat elo pake sepatu yang logonya Nike tapi tulisannya Adidas heheheh *nggak nyambung.

Karena kebiasaan gue yang suka kepoin IG nya artis maka dapet lah gue informasi mengenai work out yang mudah dilakukan dirumah. Tadinya gue kepoin IG Dian Sastro, disalah satu postingannya mbak Dian kembaran gue ini posting photo doi lagi melakukan work out. Dalam akunnya mbak Dian nulis caption kalao work out yang ia lakukan ini hasilnya cepat terlihat bahkan hanya dalam waktu 3 minggu, sehari BB bisa turun sekitar 2 pound atau hampir sekilo gitu. Wuihhhh.... gue makin semangat dong pengen tau, masa Dian Sastro yang bodynya udah proporsional aja masih olahraga, nah gue yang hampir menyerupai karung gula masih males aja?? mau jadi sebesar kulkas lu?? *kemudian maki-maki kulkas.


semoga bisa selangsing Dian Sastro heheheh

Ternyata semua list latihan work out routines Dian Sastro dibuat oleh sahabat karibnya Adinia Wirasti yang merupakan Nike Training, gue kepoin lagi IG nya Adinia Wirasti. Ehm... ternyata bener si mbak Carmen dalam film AADC ini sekarang memiliki body yang oke banget, bikin ngiri deh.


Kapan body gue bisa seperti ini, tanpa tas pinggang di perut.


Akhirnya gue contohin gerakan-gerakan work out dari Adinia Wirasti ini. Yang pake Smartphone bisa unduh gratis di Google Play, aplikasinya bernama N+TC atau  Nike Training Club. Setelah di unduh kita bisa langsung bergabung dengan cara mendaftar akun dulu kemudian bisa memilih metode latihan dan mengunduhnya. Aplikasi ini oke banget karena udah ada program per minggu baik itu untuk perampingan, pengencangan, penguatan dan pemfokusan. Ada juga latihan untuk pemula, menengah dan latihan lanjutan. Jadi kita bisa memilih yang mana yang mau kita ikuti latihan work out nya, Gerakan-gerakannya mudah untuk diikuti. Karena semua gerakan memakai istilah-istilah yang mungkin belum kita pahami sebagai pemula, kita bisa memutar video untuk mengetahui seperti apa gerakan latihannya sebelum mulai berlatih.

Ini penampilan aplikasinya.











Gue suka banget aplikasi ini apalagi kita bisa menyetel musik favourit kita sendiri ketika latihan. Karena lagi keranjingan drama Korea She Was Pretty jadi gue pasang lagunya The Carpenters yang judulnya Close To You biar latihannya lebih fokus. Dalam program latihan ini kita juga bisa invite temen loh, jadi bisa dilakukan bersama-sama untuk saling menyemangati, di akhir sesi latihan juga akan di tutup dengan quote biar kita semakin termotivasi.



Pagi ini mumpung Raheesa masih tidur dan gue mulai lakukan latihan work out untuk pemula yaitu latihan Sweat+shape, sekitar 30 menit alhasil keringat membanjir. Rencananya gue bikin program latihan selama 4 minggu targetnya bisa nurunin berat badan syukur-syukur bisa turun 10 kiloan. Ternyata adanya aplikasi ini bisa membantu banget buat gue terutama yang sangat berat melangkahkan kaki untuk masuk ke tempat fitnes atau masuk ke sanggar senam, toh bisa dilakukan di dalam rumah di waktu-waktu senggang.  Jadi gak ada alasan untuk nggak olahraga lagi nih. Yang mau mencoba hayukkk... biar kita saling menyemangati. 



Saturday, 3 October 2015

Cerita Tentang Dapur Kami



"Setiap rumah tangga pasti punya cerita dan punya rahasia tentang dapur mereka. Dapur bukan hanya tempat untuk memasak dan mengolah makanan, bukan pula tempat untuk memajang perabotan yang hanya sekedar tau saja kegunaannya untuk apa. Lebih dari itu dapur adalah tempat yang penuh cerita. Ada suka, duka, pahit, asam, manis dan asin. Dari sanalah kreatifitas tercipta".


Dapur bagi gue merupakan ruangan yang paling nyaman untuk berekspresi. Dari sana biasanya sering muncul ide-ide yang tak terduga. Bercerita tentang dapur, gue ingat sekali dapur dirumah kami yang lama. Dulu dapur kami sangat luas berhadapan langsung dengan ruang makan dan taman belakang rumah yang dilengkapi dengan kolam ikan dan koleksi ikan-ikan Koi milik ayah. Dapur kami sangat adem karena terdapat ruang terbuka  hijau di sisi ruang makan jadi udara bisa dengan leluasa masuk. Tapi sayangnya dulu dapur kami sangat jarang digunakan untuk memasak dan ruang makan kami sangat jarang digunakan untuk makan bersama karena kesibukan ayah dan emak yang bekerja dari pagi sampai petang baru balik kerumah dan adik satu-satunya yang tidak tinggal bersama karena sedang kuliah di Jogja hingga terkadang gue hanya di temani alm. nenek yang memang sering menginap dirumah. 

Dapur di rumah kami yang sekarang sangat kecil, 7 tahun sudah kami sekeluarga pindah ke rumah yang baru yang letaknya dekat dengan kota karena rumah yang lama sengaja di jual ayah dengan alasan letak rumah yang kurang strategis untuk membangun usaha rumahan. Dapur rumah kami sangat minimalis, saking minimalisnya bahkan nggak bisa menampung banyak barang. Dapur kami hanya dilengkapi perabotan seadanya aja, Gak ada kitchen set atau meja batu keramik yang mewah disana hanya ada meja kayu, sebuah kompor gas dan dua tungku kayu yang memang sering dipakai ketika Emak memasak dalam jumlah banyak semisal ada acara keluarga ataupun acara di Masjid. 

Tungku kayu bagi sebagian masayakat memang sudah banyak ditinggalkan, masih ada yang pake tapi paling masyakat yang tinggalnya di daerah pedesaan. Tapi emak gue masih sering memakai tungku kayu dengan alasan sederhana "hemat gas" heheheh... .Sebenarnya kata orang tua jaman dahulu masakan yang dimasak dengan api kayu lebih enak dibandingkan makanan yang dimasak dengan kompor gas. Ah.... entahlah gue belum menemukan perbedaaan itu tapi yang jelas memakai tungku kayu ada kelebihan dan kekurangannya juga sih. 

Di dapur rumah kami yang sekarang, meskipun tak seluas dan sebagus dapur kami yang lama setiap hari selalu ada asap yang mengebul, selalu ada aroma dan bau masakan lezat, selalu ada canda tawa dan cerita di meja makan, dan selalu ramai dengan suara radio yang di putar emak untuk menemaninya memasak. Setelah memutuskan pensiun dari kegiatan sehari-harinya emak dan ayah lebih sering berada dirumah. Memasak, ngobrol, makan bersama, atau sekedar bersenda gurau lebih sering dilakukan di dapur dibanding ruang keluarga. Ada kerabat yang datang kerumah pun lebih sering berkumpul di dapur dibandingkan ruang lainnya.

Dari kecil gue sangat senang melihat kepiawaian emak di dapur, ada saja yang ia lakukan disana entah itu memasak lauk ataupun membuat berbagai macam cake dan cemilan enak lainnya. Gak lama kemudian tau-tau sudah ada aja makanan lezat yang di hidangkan di meja makan.


Setiap anak pasti setuju kalau masakan ibunya adalah masakan yang paling lezat sedunia, bahkan masakan Cheff yang paling handal pun tak bisa mengalahkan nikmatnya masakan ibu. Karena  sejauh apapun si anak melangkah pasti yang dirindukan ketika pulang adalah masakan ibu. Demikian juga gue, bagi gue masakan yang paling enak dan pas di hati  cuma masakan emak. Bahkan setiap pulang kampung gue selalu minta dimasakin macem-macem saking rindunya sama masakan rumah. Entah kenapa kalau emak yang masak telor ceplok pun terasa nikmat.


Hidup di perantauan dan jauh dari kampung halaman terkadang sering bikin gue rindu sekali dengan masakan rumah. Biasanya dalam seminggu gue selalu sempatkan memasak makanan asli dari daerah asal gue pulau Bangka, atau sesekali mencontek resep emak. 
Gue selalu cinta masakan rumah, di tangan emak semua jenis makanan, komposisi dan takaran selalu pas. Tangan emak begitu tulus menyajikan setiap makanan yang dimasak untuk dinikmati bersama, begitu ikhlas melakukan apa yang sudah menjadi kewajibannya. Dari emak gue ingin belajar banyak cara mengolah makanan, bahkan bukan hanya sekedar belajar memasak dari emak juga gue ingin belajar tentang apa itu ketulusan dan keikhlasan. Gue ingin nantinya anak dan suami gue selalu rindu dengan masakan gue, selalu pulang dan kembali ke gue hanya untuk menikmati masakan gue. Gue ingin menciptakan sejarah dalam keluarga kecil gue. keinginan yang sederhana bukan??

Semoga sesegera mungkin gue bisa memiliki dapur sendiri, heheh... maklum sekarang masih minjem dapur mertua. Punya dapur sendiri tentu lebih menyenangkan dengan begitu gue bisa berkreasi dengan beragam jenis makanan, yahhh... setidaknya gue harus berhasil menjadi Cheff bagi keluarga gue sendiri.

Bagaimana cerita dapur dirumah kalian??




Sunday, 20 September 2015

Oldies Song: Bicara Musik Bicara Selera



Suara The Beatles mengalun-alun merdu membawakan lagu lawasnya yang berjudul Michelle, sengaja gue putar malam ini di playlist gue untuk membantu gue mengingat-ingat kembali masa-masa kecil gue yang indah ketika pertama kali di cekokin lagu-lagu barat lawas kesukaan ayah. Seperti biasa gue hanya akan memutar satu lagu ini secara berulang-ulang dalam playlist gue untuk setiap lagu yang gue suka. Sejak dulu gue selalu suka mendengarkan musik-musik era tahun 80-an dan  90-an dibandingkan musik-musik jaman sekarang. Iya gue emang jadul dan kuno setidaknya itulah yang dikatakan sepupu gue ketika ia melihat koleksi MP3 milik gue. Banyak yang bilang selera gue payah karena lagu-lagu yang gue suka kebanyakan yang oldies. Padahal ketika lagu ini muncul gue bahkan belum lahir.

Waktu itu usia gue baru 7 tahun, seperti biasa rumah kami yang kecil selalu ramai dengan alunan-alunan musik dari Tape Deck milik ayah. Setiap hari yang diputar adalah lagu-lagu barat lama seperti lagu-lagunya Daniel Sahuleka, Lucifer, Glen Frey, Shakin Steven, Leo Sayer, Peter Cetera dan masih banyak lagi, sesekali juga di selingi lagu-lagu dangdut favorit ayah seperti lagu-lagu koleksinya Haji Rhoma Irama, Muchsin Alatas dan juga penyanyi dangdut lainnya.

Dulu rumah kami nggak memiliki televisi, entah karena alasan apa orang tua gue lebih senang mendengar radio atau memutar lagu dari kaset ketimbang nonton televisi, apa mungkin karena zaman dulu hanya ada satu stasiun televisi TVRI aja yang siarannya hanya sampai pukul 21.00 malam, setelah program Dunia Dalam Berita layar televisi langsung dipenuhi semut. Nggak seperti sekarang siaran televisi 24 jam dengan beragam acara dari banyak stasiun TV yang menghadirkan banyak pilihan. 

Ngomongin tentang musik atau lagu, gue sering semacam de javu gitu kalau tiba-tiba mendengarkan kembali lagu-lagu yang lama nggak gue dengerin lagi, kalau sudah begitu tiba-tiba rasa rindu pun meluap-meluap ingin kembali lagi menjadi penyiar radio seperti dulu. Menyapa pendengar dan memutar lagu-lagu permintaan pendengar. Dulu gue sangat bahagia banget serasa menemukan dunia sendiri ketika diterima bekerja di Radio Sonora yang memang memiliki program acara yang khusus memutar lagu-lagu oldies favorit gue. Walaupun harus menemani para pendengar yang rata-rata seangkatan ayah gue, tapi gue happy banget apalagi yang mereka request adalah juga termasuk lagu yang gue suka. Secara gak langsung pengetahuan gue tentang lagu dan penyanyi oldies juga bertambah karena dekat dengan pendengar oldies.

Percaya nggak kalau sebuah lagu juga ternyata mampu membangkitkan memori atau kenangan seseorang. Seperti sabtu kemarin pas lagi main ke pasar Taman Puring, tiba-tiba ada yang puterin lagu Father yang dinyanyiin sama penyanyi lama Peter, Sue and Marc. Lagu ini ngingetin gue sama emak gue yang pernah excited banget ketika gue muterin lagu ini waktu dulu masih jadi penyiar radio. Usut punya cerita ternyata lagu ini adalah lagu favorit dia banget ketika masih remaja, emak gue bilang udah lama banget gak dengerin lagu ini pas dia denger lagi matanya sampai beraer. Wow ternyata begitu  dahsyat kekuatan sebuah lagu yang bisa menjadi daya pengingat terhadap suatu hal yang jarang di pikirkan. 




Yang belum pernah mendengarkan lagi Father ini, ini gue kasih playlistnya. Lagunya sangat easy listening.

Gue dan suami memiliki selera yang beda soal musik favorit, suami lebih suka dengerin lagu-lagu tahun 90-an seperti Oasis tapi suami gak pernah komplain setiap gue muterin lagu-lagu favorit gue. Ada satu radio di Jakarta yang gue suka dengerin kalau malem-malem. Gue sering lupa nyebutin namanya dan ngingetin berapa frekuensinya. Kadang kalau sengaja putar tombol tuning untuk nyari malah nggak dapet. Radio ini sering muterin lagu-lagu lawas kalau malam hari dimulai sekitar pukul 22.00 malam. Gue suka banget lagu-lagu yang diputerin apalagi suara penyiarnya dan cara pembawaannya nancep banget di hati gue. 

Semenjak nggak jadi penyiar radio lagi, ingatan gue tentang lagu-lagu dan penyanyi barat era 80-an hanya sebatas koleksi MP3 yang gue punya aja. Kadang suka download atau sengaja googling nyari lagu apa aja yang bagus yang belum pernah gue dengerin. Seperti kemarin dapet judul lagu Starry Starry Night nya Don McLean yang jadi soundtrack drama Korea angel Eyes dari mbak Della Firayama. Langsung gue download karena emang suka. Dan ini beberapa list lagu lawas yang sering bikin gue CLBK. 

Ebony & Ivory - by Stevie Wonder & Paul Mccartney
Have You Ever Been In love - by Leo Sayer
My Love, My Love - by Jeri Logan
Hard To Say I'm Sorry - by Chicago
Fly Away - by Stevie Wood
All Iam - by Heatwave
I've Never Been To Me - by Charlene
One Day In Your Live - by Michael Jackson
House for Sale - by Lucifer
I Love You - by Sofie
Dont Sleep Away this Night My Baby - Daniel Sahuleka
Making Love - by Roberta Flack
Only You - by The Platters
What I Like About You - by The Romantics
Lady - by Kenny rogers
Mother How Are you Today - by Maywood

Lagu-lagu lawas seperti ini memang asyik didengarkan di malam hari sebagai musik pengantar tidur, atau di pagi hari menamani waktu sarapan meneyeruput teh hangat sambil menikmati sinar mentari pagi, lebih syahdu lagi didengarkan ketika ditemani hujan gerimis aihhh.... rasanya berguguran semua beban-beban di pundak yang dirasakan sepanjang hari kemarin. Lagu oldies, hujan dan cuaca dingin yang sangat gue suka selalu bisa bikin gue betah berlama-lama menikmatinya.


Musik adalah karya seni yang baik dan tinggi nilai estetikanya. Musik merupakan seni surgawi yang mampu menyentuh perasaan dan  musik adalah pedoman karena syairnya dapat berisi pesan, perintah dan isyarat tertentu. Keindahan dapat terjalin ketika ritme, melodi dan harmoni menyatu dalam keteraturan. Karena alam semesta pun merupakan keseluruhan yang teratur sesuatu yang harmonis seperti musik.

- Plato -

Wednesday, 10 June 2015

Cerita Gue: Antara Berdandan dan Memasak

Dalam hidup gue, gue sering merasa gak berbakat dalam dua hal yaitu berdandan dan memasak. Layaknya wanita dewasa masa kini yang sudah berkeluarga dan tinggal di ibukota yang WOW... ini setidaknya kemampuan dasar seperti itu harus sudah dikuasai sebelum menikah. Jadi kali ini gue mau ngebahas kedua point yang selalu masih menjadi ajang coba-coba dalam hidup gue.

Dandan



Mungkin ada sebagian yang persis seperti gue merasa jadi Cinta dalam film AADC. Di depan kaca dengan seperangkat kosmetik itupun kosmetik hantaran waktu nikah yang masih utuh karena jarang dipakai meskipun udah 3 tahun. Coba-coba pake lipstick terus hapus, coba lagi pake eyeliner terus hapus, dan begitu seterusnya tanpa hasil malah lebih mirip ke ondel-ondel khas Betawi. 

Bukan tanpa alasan temen gue ngasih julukan ke gue "wanita hampa tanpa lipstick dan pensil alis" tampaknya julukan ini memang sudah melekat pada diri gue. Dari dulu gue hanya mengandalkan bedak baby yang serba praktis tinggal tabur ditelapak tangan gosok-gosok dan usap kemuka. Sampai gue tamat kuliah dan terjun ke dunia kerja kebiasaan itu masih berlangsung. Pernah suatu hari gue ditegur Pimpred gue di tempat kerja, dia bilang kenapa jadi perempuan mukanya polos sekali bahkan istrinya turun tangan ngasih tips biar muka gue kinclong. Gue disuruh bikin masker dari beras ketan hitam yang direndam 3 hari lalu ditumbuk sampai halus. Gue lakonin nggak? tentu nggak. Dan istri bos gue pun nggak pernah tau kalau nasehatnya hanya masuk kuping kanan terus keluar lagi kuping kiri. 

Dulu gue punya masalah alergi kulit, jerawat bernanah yang menghancurkan fisik dan psikis gue secari membabi buta. Gue udah pasrah aja berbagai cream, salep, lotion dan resep dari mulut ke mulut udah gue lakonin. Hingga akhirnya gue masuk ke ruang praktek Dokter kecantikan yang katanya udah bersertifikasi. Bukannya sembuh malah gue jadi anti banget ke Dokter kecantikan. Kenapa? karena terlalu sadis dan gue ngerasa itu hal terhoror yang gue lakukan dalam hidup gue saat itu. Muka gue yang penuh motif polkadot nya di sedot sampe meninggalkan bekas parutan di pipi gue yang sampe sekarang masih membekas. Dalam hidup gue itu adalah pengalaman pertama sekaligus terakhir gue masuk ke ruang prakter dokter kecantikan.

Jadi kalau sekarang gue udah bisa dandan dikit-dikit itu bukan karena keharusan melainkan masih ajang coba-coba. Gue selalu inget nasehat emak dulu ketika gue belom menikah.

Emak bilang: 

"Jadi orang jangan males, coba belajar ngurusin badan, muka dipakein bedak, jerawat jangan dipites terus-terusan. Itu rambut disisir, bibir dikasih lipstick jangan balu kek gitu. Trus kalo gajian jangan cuma jajan beli makanan belilah parfum yang botol gede jangan minta punya emak terus-terusan". 

Dulu, mungkin emak gue nggak tau kalo anaknya ini bukanlah tipe cewek-cewek pada umumnya yang punya koleksi aksesoris, tas dan sepatu hak tinggi. Emak bahkan nggak tau kalau gue bukanlah tipe cewek girly yang suka dandan. Bahkan gue nggak suka dipusingin dengan UV protection yang tertera di compact powder atau lipstick seri berapa yang lagi ngetrend.

Yah, gue rasa emak gue dulunya memang nggak tau segalanya kalau anak perempuannya ini adalah seorang yang nggak pernah sekalipun nyentuh bedak atau lipcare atau bahkan sekedar body lotion. Dan satu hal lagi yang emak gue nggak pernah tau, dulu itu parfumnya bukan habis karena gue yang pakai. Itu parfum habis karena ketumpahan sama gue. 

Kalau dulu nasehat emak bisa gue counter attack dan gue bantah 100 %, tapi sekarang emak gue lebih hebat ngasih nasehat sekaligus ancaman. Setiap pulang ke Bangka setahun sekali gue nggak pernah ada perubahan di mata emak gue.

Emak selalu bilang:

"Itu badan kapan mau kurusnya, muka masih polos aja gak pernah make up. Tinggal di kota besar tapi kayak orang kampung, ntar dikira ahjumma loh? awas, suami tiap hari kerja diluar sana ngeliat orang-orang pada klimis dandan yang rapi eh, pulang kerumah liat bini awut-awutan".

Ekstrim banget kan emak gue, terus gue bisa apah kalo udah diceramahin gitu. Hanya bisa merenungi diri di depan cermin berharap tiba-tiba keajaiban terjadi cermin bisa ngomong bimsalabim jadi apa prok... prok...prok... dan gue berubah jadi Ha Ji Won. #terpaktarno



Masak




Dalam hal masak dulu gue sama sekali nggak pernah belajar dari emak gue yang emang pinter masak. Paling gue hanya bantu-bantu motong sayuran dan bumbu di dapur. Kalau teman gue selalu penasaran dengan resep dan cara masak makanan baru yang di makannya, gue malah nggak minat sama sekali boro-boro ngambil pena dan buku untuk mencatat resep tersebut. Tapi semenjak menikah gue emang getol banget belajar agar bisa masak dan masakan gue layak dimakan oleh suami, istilahnya gue pengen kayak iklan bikin sejarah dalam keluarga gue dengan masakan gue. Karena ada yang bilang "ibu yang hebat adalah ibu yang pandai memasak". Gue akui gue memang masih jauh dari sosok istri dan ibu yang sempurna, masakan gue masih sering labil kadang bisa enak kadang bisa ancur. Kalo dilihat dari bakat turun temurun keluarga gue almarhum nenek, budhe, nyokap dan tante-tante gue semuanya bisa masak apalagi bikin kue semuanya bisa.

Kalau kata emak gue, itu semua proses dan belajar aja dari pengalaman. Bikin kue pun gitu sekali dua kali masih bantet yang ketiga kali pasti ada kemungkinan sukses. Pokoknya terus mencoba jangan putus asa. 

Dari semua yang dikatakan emak, gue belajar hal-hal penting lain yang lebih dari sekedar tau cara memasak yang enak. Dari memasak gue mulai belajar mengasah "feelings" karena memasak bukan cuma sekedar takaran yang sifatnya pasti dan tepat seperti yang ada di buku resep. Seperti contoh ketika gue bikin pancake di resep tertera di campurin mentega sebanyak 50 gram ketika gue cetak ternyata pancake gue melempem dan gue baru merasakan pancakenya lembut dan mengembang setelah gue kurangin mentega nya hanya seukuran 1 sendok makan. Gue biasanya emang terlalu pede dalam hal memasak, gue nggak terlalu terpaku pada resep atau tutorial cara memasaknya. Gue pernah punya pengalaman gagal bikin donat sampai tiga kali karena terpaku sama resep dan tutorialnya. Eh, donat gue bukannya empuk malah bantet karena adonannya nggak ngembang dan ternyata cara nyampurin ragi nya salah.

Dan yang terakhir pesan emak gue:

"Memasaklah dengan hati, niatin kita memasak untuk membahagiakan orang yang makan makanan yang kita masak".

Kuncinya "Just keep it simple" buatlah sesederhana mungkin jangan berpikir terlalu jauh dan rumit. Dengan begitu hati, otak dan tangan akan sinkron dengan sendirinya hingga hasil yang di dapat benar-benar layak untuk dinikmati.

Oke itu sekilas mengenai dilema emak-emak rumah tangga yang kesehariannya nggak jauh-jauh dari eksperimen dan hal coba-coba.  Gue cantumin juga resep Mie Kuah Ikan Khas Bangka dan Lava Cake yang pernah gue posting di Instagram gue beberapa waktu lalu.

Resep Mie Kuah Ikan Bangka

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

Bahan:
Kalau di Bangka biasanya pakai mie basah, tapi mie telur juga gak apa-apa
Mie telur 1 bks
Tauge 100 gr
500 gr daging ikan tenggiri/selar
Daun bawang, seledri
Tomchoy (sejenis sawi putih asin)
Air kurang lebih 2 ltr

Bumbu:
Bawang merah 10 siung
Bawang putih 6 siung
Jahe setengah ruas jari
Gula merah secukupnya
Lada 1 sdt teh
Kecap manis 2 sendok makan
Minyak goreng untuk menumis
Garam, gula dan penyedap rasa secukupnya

Cara masak:
Daging ikan direbus sampai empuk, sisihkan air kaldunya (kalau gak suka amis ikan, airnya boleh dibuang dan ganti air baru) kemudian daging ikannya dihaluskan. Tumis bawang merah, bawang putih, dan jahe yang sudah dihaluskan sampai harum, sisihkan. Masak air untuk kuah setelah mendidih masukan bumbu yang sudah ditumis beserta daging ikan yang sudah dihaluskan tadi, aduk rata dan masak dengan api sedang. Setelah mendidih masukan gula merah, kecap manis, lada bubuk, garam, gula dan penyedap rasa. seimbangkan rasa.

Penyajian:
Tata mie, tauge, daun bawang, seledri, dan tomchoy dalam mangkok, tambahkan kuah lalu tabur bawang goreng lengkapi juga dengan cabe rawit, cuka atau jeruk kunci.


Resep Lava Cake

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

Bahan:
2 butir telur
1 sdm gula pasir
20 gram susu bubuk coklat (bisa pake milo)
2 sdm penuh margarine
3 sdm terigu segitiga biru
80 gr dark chocolate

Cara masak:
Lelehkan coklat dan margarine, setelah meleleh masukan susu bubuk coklat aduk rata. Dimangkok terpisah kocok telur dan gula dengan garpu sampai gula larut, masukan terigu aduk rata, masukan adonan coklat aduk rata. Setelah itu masukan ke cetakan yang sudah di oles margarine. Kukus pakai api besar selama 7-10 menit. Angkat dan sajikan.

Note:
Gue pernah nyoba kukus selama 7 menit, pas di cetak bagian atasnya belom mateng dan terlalu meleleh. Terus gue coba lagi kukus sekitar 8-9 menit barulah hasilnya memuaskan pas di belah lavanya keluar. Total semua persiapan sekitar 15 menitan. Pake timer hape jadi pas di 8-9 menit langsung angkat. Satu resep jadinya 4 porsi ukuran cetakan diameter 7 cm dan tinggi cetakan 3 cm.

selamat mencoba ya^^


Saturday, 23 May 2015

Mengubah Gaya Hidup: Ketika Gue Menjajal Rawfood


Di tengah cuaca panas Jakarta yang tak bersahabat, tiba-tiba suami gue bilang kalo hari ini dia lagi belajar memulai hidup tanpa rokok. Wow.... gue kaget dong dengernya, antara percaya nggak percaya.
"Emang bisa"? langsung pertanyaan terlontar dari mulut gue. 
"Harus bisa bund, tapi kepala ayah pusing nih" sambungnya. 
"Harus bisa dong yah, kalo mulutnya terasa asem ngemut permen aja kalo nggak ngemut garam aja tuh" kata gue lagi sambil bercanda. 

Dari dulu gue udah sering cerewetin suami masalah rokok apalagi kalau dia ngerokok abis makan atau sebelum tidur sebel banget gue sama kebiasaannya itu. Pernah gue dengan sepenuh hati minta suami untuk ninggalin rokoknya ketika baru-baru menikah namun dengan perlahan suami bilang itu butuh proses dan dia bilang lebih duluan kenal rokok dibanding kenal sama gue. Gue sewot dong di jawab begitu, ibarat seseorang yang gak bisa melepas bayangan cinta pertama nya aja. 

Siapapun tau jeleknya rokok untuk kesehatan, nggak usah gue jelasin panjang lebarlah. Kalo inget dulunya gue ngarep banget dapet suami yang gak ngerokok karena gue nggak suka rokok dan orang yang merokok. Pendapat gue tentang rokok masih sama seperti dulu dan gue nggak akan terpengaruh cuman karena ngeliat sekeliling pada merokok. Gue udah hidup 30 tahun lebih di lingkungan "berkabut pekat" dan tetep gue nggak pernah kepikiran untuk merokok. Kadang orang punya alibi rokok bisa menjernihkan otak yang sedang kusut, stress bisa ilang hanya dengan sebatang rokok. Gue nggak pernah tau itu teori dari mana, semua berasal dari kebiasaan sih menurut gue. Untuk menggantikan fungsi pensieve yang paling mantep buat gue adalah Indomie super pedas dan segelas air es. Those two will help me clear my mind.

Hari ini kelihatan banget suami gue agak-agak gelisah gitu, mungkin dia galau mau ngerokok lagi apa nggak. Gue bilang ke suami begitulah yang juga gue rasakan kalau lagi diet antara mau makan apa nggak. Sulit banget untuk menahan nafsu. Jadi butuh banget support dari orang terdekat. Soalnya suami gue sangat nggak mendukung gue diet, dia masih suka godain gue ngajak makan Indomie di tengah malem buta. Tapi untuk ninggalin rokok gue selalu mensupport niat baiknya ini. Semoga aja suami gue bisa melalui hari-hari sulitnya lepas dari jeratan cinta pertama nya itu. 

Sama dengan suami yang sedang berusaha menghilangkan rokok dalam kehidupannya, gue pun demikian sedikit demi sedikit mulai belajar meninggalkan kebiasaan buruk gue. Semenjak menikah dan punya anak gue mulai belajar merubah pola makan, emang sih niat utama gue adalah mau menurunkan berat badan gue yang udah mencapai angka paling horor dalam hidup gue. Habis melahirkan dan sekarang Raheesa udah 2,5 tahun gue belum berhasil menurunkan berat badan ke angka semula. Biar dikatain pelit gue nggak akan membocorkan angka horor tersebut. Keturunan keluarga gue memang punya rangka badan yang gede jadi walaupun gue kurus kalau ditimbang angkanya pasti gede diatas 55 kg. Kalau ngewarisin emak gue mungkin gue nggak ada bakat gemuk karena keturunan dari Emak gue badannya langsing-langsing. Gue mungkin mewarisi bakat subur dari sebelah Ayah gue, punya paha lebar, lengan lebar dan belulang perut yang tebal.

Kalau dulu gue masih bisa makan sembarangan, gorengan, baso, somay dan semua jajanan diluar sana, tapi kali ini gue mulai belajar putus hubungan dengan semua makanan enak itu. Mau nggak mau gue harus mulai sebelum berat badan gue mencapai angka yang paling mengerikan. Apalagi sekarang gue sering ngeluh pusing setiap habis makan seafood. Gue takut kolestrol tinggi dan obesitas kalau gue terus-terusan makan tanpa sadar itu baik apa nggak untuk tubuh gue. Berbagai metode diet udah gue coba mulai dari Food Combining, diet golongan darah, OCD nya Dedy Corbusier, Diet mayo tanpa garam, diet detoks sampai diet ekstreem tanpa nasi dan gula. Namun metode diet yang berbeda-beda itu membingungkan gue sampai gue menemukan metode terbaik hingga akhirnya sampailah gue ke "Rawfood".

Salah satu yang menginspirasi gue adalah artis Sophie Navita, istrinya Pongki Baratha ini mengubah pola hidupnya menjadi pecinta Rawfood yaitu hanya makan buah dan sayuran mentah atau sayuran yang hanya dimasak dengan suhu rendah. Menurut mbak Sophie pola makan rawfood ini banyak banget manfaatnya untuk kesehatan. Sejak ia merubah pola makannya ia sekeluarga mengalami banyak perubahan mulai dari tubuh yang ramping juga bonus kulit yang sehat. Gue pernah nonton dia disalah satu acara dan mulai saat itu gue rajin banget ngintip Instagram nya dan baca blognya dari situ gue terinspirasi pengen hidup sehat dan menjajal Rawfood. Nggak usah gue jelasin disini ya apa itu Rawfood karena gue pun belum 100% Rawfood dan terkadang masih suka bablas makan sembarang. Kalau pengen tau bisa baca blognya mbak Sophie atau searching di Google.



Gue bisa beradaptasi dengan jenis makanan Rawfood karena pada dasarnya sejak kecil gue adalah Fruitarian addict dan pecinta sayur-sayuran. Dari kecil gue udah suka banget makan lalapan jadi gue nggak pernah masalah dengan makan sayuran mentah. Untuk sekarang mungkin gue menerapkan dulu ke diri gue sendiri karena kalau ingin mengajak keluarga harus punya komitmen yang kuat "everybody harus berubah" begitulah yang gue tanamkan dalam diri gue. Untunglah suami gue makannya nggak neko-neko, nggak punya makanan favorit selain jengkol, jadi masih bisa di ajak makan sehat. Dan untuk Raheesa dari pertama MPASI udah gue kenalin buah-buahan dan sayuran jadi sampai sekarang nggak ada masalah makan sayur dan buah semuanya di hajar. 

Sayuran favorit gue adalah brokoli dan mentimun, selain mudah diolah dua jenis sayuran ini cukup mengenyangkan. Cara mengolahnya pun sangat sederhana. Kalau timun biasanya gue bikin acar dan untuk brokoli cukup di rendam dengan air panas 1 menit terus ditaburin bawang putih yang digoreng dengan minyak zaitun. Kalau iseng pengen ngemil biasanya gue ngemil makanan olahan dari buah-buahan seperti alpukat dan tomat, minum smoothie campuran buah dan sayuran juga jadi favorit gue. Atau kalau lagi pengen yang legit-legit gue  bikin pisang bakar madu yang ditaburin bubuk kayu manis.

Beberapa contoh makanan olahan gue:
A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

Awal-awalnya agak sedikit susah menyesuikan diri dengan pola makan yang aneh begini. Kesulitannya ketika menghidangkannya untuk suami, dia selalu bertanya "ini apa" dan gue kalau males ngejelasin hanya bilang "udah makan aja". Dasar suami gue orangnya nggak pernah komplain dengan masakan istri jadi apapun yang gue kasih semua dimakan. Tapi setiap hari selain menghidangkan Rawfood gue masih masak makanan lain misalnya ayam opor, sop, sambel dan goreng-gorengan untuk suami. Masih belum bisa 100 % Rawfood, masih abal-abal lah tapi apa salahnya mencoba beralih ke pola makan sehat kalau sebenarnya itu yang dibutuhkan oleh tubuh. 

Sekarang kalau belanja daftar barang utama yang gue beli adalah sayuran dan buah-buahan. Gue bahagia banget kalau di kulkas gue banyak stok buah dan sayur. Memang pengeluaran bulanan agak sedikit membengkak karena dua hari sekali paling nggak gue harus belanja buah dan sayuran segar dan gue setiap hari juga harus masak yang berbeda-beda untuk suami dan Raheesa karena Rawfood tidak dianjurkan untuk anak-anak.

Hampir 2 bulan menjajal Rawfood, yang paling gue rasain banyak perubahannya adalah gue gak pernah ngeluh pusing dan BAB gue lancar. Masalah utama gue sebenarnya ada di sistem pencernaan karena dulu gue hanya bisa BAB setiap dua atau tiga hari sekali.

"masih tertarik sate padang sih sebenarnya, batagor di pertigaan komplek juga enak tuh, apalagi mpek-mpek kapal selam yang kuahnya sangat menggoda itu". Dan ajakan suami makan bakmi bangka terkadang masih sulit untuk di tolak. Begitu susahnya menepis nafsu, apalagi urusan perut. Namanya juga belajar harus bisa menahan diri. Ini bukan buat gaya-gayaan atau sekedar ngikutin trend biar disebut kekinian, lebih ke masalah pilihan dan keinginan untuk hidup lebih baik.


"Rawfood itu adalah pilihan, kalau orang-orang suka dan cocok, kenapa tidak dicoba. Tugasnya adalah makan berkesadaran, karena gue percaya makanan enak itu hanya enak dilidah saja". 

#edisimensupportdiri