Showing posts with label endless love. Show all posts
Showing posts with label endless love. Show all posts

Sunday, 20 September 2015

Oldies Song: Bicara Musik Bicara Selera



Suara The Beatles mengalun-alun merdu membawakan lagu lawasnya yang berjudul Michelle, sengaja gue putar malam ini di playlist gue untuk membantu gue mengingat-ingat kembali masa-masa kecil gue yang indah ketika pertama kali di cekokin lagu-lagu barat lawas kesukaan ayah. Seperti biasa gue hanya akan memutar satu lagu ini secara berulang-ulang dalam playlist gue untuk setiap lagu yang gue suka. Sejak dulu gue selalu suka mendengarkan musik-musik era tahun 80-an dan  90-an dibandingkan musik-musik jaman sekarang. Iya gue emang jadul dan kuno setidaknya itulah yang dikatakan sepupu gue ketika ia melihat koleksi MP3 milik gue. Banyak yang bilang selera gue payah karena lagu-lagu yang gue suka kebanyakan yang oldies. Padahal ketika lagu ini muncul gue bahkan belum lahir.

Waktu itu usia gue baru 7 tahun, seperti biasa rumah kami yang kecil selalu ramai dengan alunan-alunan musik dari Tape Deck milik ayah. Setiap hari yang diputar adalah lagu-lagu barat lama seperti lagu-lagunya Daniel Sahuleka, Lucifer, Glen Frey, Shakin Steven, Leo Sayer, Peter Cetera dan masih banyak lagi, sesekali juga di selingi lagu-lagu dangdut favorit ayah seperti lagu-lagu koleksinya Haji Rhoma Irama, Muchsin Alatas dan juga penyanyi dangdut lainnya.

Dulu rumah kami nggak memiliki televisi, entah karena alasan apa orang tua gue lebih senang mendengar radio atau memutar lagu dari kaset ketimbang nonton televisi, apa mungkin karena zaman dulu hanya ada satu stasiun televisi TVRI aja yang siarannya hanya sampai pukul 21.00 malam, setelah program Dunia Dalam Berita layar televisi langsung dipenuhi semut. Nggak seperti sekarang siaran televisi 24 jam dengan beragam acara dari banyak stasiun TV yang menghadirkan banyak pilihan. 

Ngomongin tentang musik atau lagu, gue sering semacam de javu gitu kalau tiba-tiba mendengarkan kembali lagu-lagu yang lama nggak gue dengerin lagi, kalau sudah begitu tiba-tiba rasa rindu pun meluap-meluap ingin kembali lagi menjadi penyiar radio seperti dulu. Menyapa pendengar dan memutar lagu-lagu permintaan pendengar. Dulu gue sangat bahagia banget serasa menemukan dunia sendiri ketika diterima bekerja di Radio Sonora yang memang memiliki program acara yang khusus memutar lagu-lagu oldies favorit gue. Walaupun harus menemani para pendengar yang rata-rata seangkatan ayah gue, tapi gue happy banget apalagi yang mereka request adalah juga termasuk lagu yang gue suka. Secara gak langsung pengetahuan gue tentang lagu dan penyanyi oldies juga bertambah karena dekat dengan pendengar oldies.

Percaya nggak kalau sebuah lagu juga ternyata mampu membangkitkan memori atau kenangan seseorang. Seperti sabtu kemarin pas lagi main ke pasar Taman Puring, tiba-tiba ada yang puterin lagu Father yang dinyanyiin sama penyanyi lama Peter, Sue and Marc. Lagu ini ngingetin gue sama emak gue yang pernah excited banget ketika gue muterin lagu ini waktu dulu masih jadi penyiar radio. Usut punya cerita ternyata lagu ini adalah lagu favorit dia banget ketika masih remaja, emak gue bilang udah lama banget gak dengerin lagu ini pas dia denger lagi matanya sampai beraer. Wow ternyata begitu  dahsyat kekuatan sebuah lagu yang bisa menjadi daya pengingat terhadap suatu hal yang jarang di pikirkan. 




Yang belum pernah mendengarkan lagi Father ini, ini gue kasih playlistnya. Lagunya sangat easy listening.

Gue dan suami memiliki selera yang beda soal musik favorit, suami lebih suka dengerin lagu-lagu tahun 90-an seperti Oasis tapi suami gak pernah komplain setiap gue muterin lagu-lagu favorit gue. Ada satu radio di Jakarta yang gue suka dengerin kalau malem-malem. Gue sering lupa nyebutin namanya dan ngingetin berapa frekuensinya. Kadang kalau sengaja putar tombol tuning untuk nyari malah nggak dapet. Radio ini sering muterin lagu-lagu lawas kalau malam hari dimulai sekitar pukul 22.00 malam. Gue suka banget lagu-lagu yang diputerin apalagi suara penyiarnya dan cara pembawaannya nancep banget di hati gue. 

Semenjak nggak jadi penyiar radio lagi, ingatan gue tentang lagu-lagu dan penyanyi barat era 80-an hanya sebatas koleksi MP3 yang gue punya aja. Kadang suka download atau sengaja googling nyari lagu apa aja yang bagus yang belum pernah gue dengerin. Seperti kemarin dapet judul lagu Starry Starry Night nya Don McLean yang jadi soundtrack drama Korea angel Eyes dari mbak Della Firayama. Langsung gue download karena emang suka. Dan ini beberapa list lagu lawas yang sering bikin gue CLBK. 

Ebony & Ivory - by Stevie Wonder & Paul Mccartney
Have You Ever Been In love - by Leo Sayer
My Love, My Love - by Jeri Logan
Hard To Say I'm Sorry - by Chicago
Fly Away - by Stevie Wood
All Iam - by Heatwave
I've Never Been To Me - by Charlene
One Day In Your Live - by Michael Jackson
House for Sale - by Lucifer
I Love You - by Sofie
Dont Sleep Away this Night My Baby - Daniel Sahuleka
Making Love - by Roberta Flack
Only You - by The Platters
What I Like About You - by The Romantics
Lady - by Kenny rogers
Mother How Are you Today - by Maywood

Lagu-lagu lawas seperti ini memang asyik didengarkan di malam hari sebagai musik pengantar tidur, atau di pagi hari menamani waktu sarapan meneyeruput teh hangat sambil menikmati sinar mentari pagi, lebih syahdu lagi didengarkan ketika ditemani hujan gerimis aihhh.... rasanya berguguran semua beban-beban di pundak yang dirasakan sepanjang hari kemarin. Lagu oldies, hujan dan cuaca dingin yang sangat gue suka selalu bisa bikin gue betah berlama-lama menikmatinya.


Musik adalah karya seni yang baik dan tinggi nilai estetikanya. Musik merupakan seni surgawi yang mampu menyentuh perasaan dan  musik adalah pedoman karena syairnya dapat berisi pesan, perintah dan isyarat tertentu. Keindahan dapat terjalin ketika ritme, melodi dan harmoni menyatu dalam keteraturan. Karena alam semesta pun merupakan keseluruhan yang teratur sesuatu yang harmonis seperti musik.

- Plato -

Tuesday, 11 August 2015

Ranu : Cerita Hati Yang Menggantung


Gambar dari Google


Pertemuan kita memang sangat istimewa, setidaknya itulah yang aku rasa. Berawal dari kuliah pagi yang mata kuliah berikut ibu dosen nya sangat gak aku suka. Saat sang dosen mulai khusuk menjabarkan apa itu Statistik Probabilitas tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan konsentrasi seisi kelas. Tiga orang laki-laki tampak gusar karena terlambat mengikuti mata kuliah dosen yang terkenal judesnya. Saat itu juga mataku langsung terperangah pada salah satu dari mereka,  lelaki berkemeja kotak-kotak berwarna merah marun yang belakangan baru aku tau namanya Ranu...

Waktu berlalu, kian hari kita semakin dekat. Kita menjadi kawan sepermainan yang tak sungkan berbagi cerita dan membagi rahasia. Ya aku dan kamu memiliki kesamaan yang banyak sekali, sama-sama suka pantai, suka puisi dan suka memancing. Kita pun sering meluangkan waktu bersama entah itu sekedar duduk diteras rumahmu sembari menyeruput teh hangat buatan ibumu atau bahkan berburu komik diskonan di toko buku.

Aku sangat senang mendengar ceritamu, cerita tentang adik perempuan kesayanganmu juga cerita tentang mimpi-mimpimu. Kamu ingin menjadi seorang Arsitek seperti katamu yang sukses membangun sebuah rumah impian untuk anak istrimu sebelum usiamu 30. Lalu kita terus berkhayal sambil tersenyum seperti apa kita dihari tua kita nanti.

Saat kita bersama dengan yang lainnya, kamu tak segan menarikku untuk selalu duduk bersebelahan denganmu, bahkan kau tak segan untuk selalu mengajakku pergi berdua selepas jam kuliah, naik motor vespa kesayanganmu lalu kita menikmati suasana malam sambil mengitari kota. Dalam hatiku aku sangat bahagia menikmati tiap menit kebersamaan denganmu.

Aku tau semua sisi burukmu, begitupun kamu tau semua kuncianku, dan hal-hal yang membuatku selalu memaafkan semua salahmu.

Kamu ingat pertengkaran pertama kita?

drama korea...

Karena drama korea kita sempat seminggu tak bertemu.
Waktu itu serial drama korea Full House sedang tayang di televisi. Gara-gara motor mu mogok ketika mengantarku pulang kerumah akhirnya aku melewatkan satu episode dari drama kesayanganku itu, aku marah dan kamu bilang sangat cemburu aku lebih mementingkan nonton drama dibandingkan dirimu.

Lucu sekali, saat itu kita sangat kekanakan. Gara-gara drama Full House itulah akhirnya aku memanggilmu dengan sebutan  Lee Young Jae dan kamu memanggilku Han Ji Eun, kedua tokoh yang ada di drama tersebut.

Aneh nya aku tak pernah marah dengan guyonanmu, Kau pun akan terbahak-bahak mendengarkan lelucon yang ku lontarkan, karena bagimu aku adalah gadis portable mu yang baik hati yang sulit kau temukan diluaran sana.

Aku senang mendengarkanmu bermain gitar, menyanyikan lagu-lagu yang kita suka. Kamu ingat kan lagu lama yang suka kita nyanyikan?

Feel Like Home - Chantal Kreviazuk

yeah... kamu sangat suka lagu itu.

Kamu sangat pandai memainkan senar-senar gitar dengan jari jemarimu dan kamu akan menutup kedua telingamu ketika aku mulai bernyanyi, katamu suaraku tak lebih baik dari suara mesin potocopy. Taukah kamu, petikan gitarmu membuatku menyadari bahwa ternyata kamu sedikit demi sedikit mulai mengisi gurat-gurat di hatiku.

Argh... taukah kamu bahwa hatiku kini bukan lagi menjadi milikku seutuhnya.

Ada kamu disana....

Melekat erat hingga aku bingung menamainya ini cinta atau apa?

Hingga kemudian pertanyaan-pertanyaan ingin tahu mulai banyak terlontar dari temanmu, temanku, kakakmu, sepupuku, adikmu bahkan ibuku....

Hubungan kalian apa?

Teman ?

Pacar ?

Atau

Teman tapi mesra?

Kedekatan kita memang sepertinya sudah banyak menimbulkan spekulasi, aku hanya bisa diam dan menunggu jawaban apa yang akan kau berikan. Tapi yang aku lihat sedikit sekali usahamu untuk membuat semuanya menjadi jelas. Apalah aku... sampai kapan aku mampu menunggu kepastian dari status hubungan kita.

Hingga musim berganti. September ditahun berikutnya, kita masih tak jelas.

Bye....

***

Pernah ngalamin hubungan seperti ini? Semacam tidak memiliki namun takut kehilangan, semacam tak punya status tapi merasakan kecemburuan. Digantungin tentu gak enak ya. Satu sisi doi memperlakukan kita sangat spesial tapi kita gak punya hubungan dengan status yang jelas. Kalo udah begini pasti hubungan ini berjalan tanpa arah yang jelas, ibarat kata lirik sebuah lagu

" mau di bawa kemana hubungan kitaaa..... bila kau terus menunda-nunda tanpa harus katakan cinta..."

Saran gue:

berhenti!! 

Sampai kapan mau jadi "sebastian" sebatas teman tanpa kepastian. jangan sampai terlalu banyak korban perasaan untuk hubungan yang tak ada dermaga untuk berlabuh.

Mengetuk hati seseorang tanpa berniat untuk masuk ke dalamnya adalah perbuatan tidak terpuji.

"Dalam hal apapun pengorbanan hanya akan sepadan jika tidak kelewatan batas. Karena sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik. Katakan pada mereka yang suka memberi harapan, kalau tak bisa bersama jangan dibikin nyaman dan terbiasa. Karena jelas-jelas temenan rasa pacaran itu tidak sehat". 


Wednesday, 17 June 2015

Tentang Cinta Pertama

Dari judul mungkin udah terlalu mainstream ya, tentang cinta pertama ada nggak ya orang yang nggak inget sama sekali dengan cinta pertama nya? gue rasa mungkin sedikit dibandingkan dengan yang selalu ingat. 

Cinta pertama bagi kebanyakan orang adalah cinta yang sulit dilupakan entah itu meninggalkan kesan indah atau nggak tetap saja cinta pertama adalah fase pertama seseorang mengenal asmara. Boleh jadi cinta pertama adalah cinta yang tak terlupakan dalam hidup seseorang namun tak menutup kemungkinan kalau cinta ke 2,3,4 dan seterusnya memiliki kisah yang lebih indah dari cinta pertama.

Terinspirasi dari serial drama Korea My Love Eundong yang sedang gue ikuti. Sampai episode 6 gue masih berdecak kagum dengan penulis naskah Baek Mi Kyeong yang punya ide cemerlang menulis cerita drama ini. Berkisah tentang seorang aktor terkenal yang bernama Ji Eun Ho yang tidak bisa melupakan cinta pertamanya Eun dong. 

Dalam drama ini Ji Eun Ho digambarkan sebagai sosok pria yang setia, selama 20 tahun ia masih berharap bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya yang tiba-tiba menghilang. Kemudian pada satu waktu ia bertemu kembali dengan Eundong cinta pertamanya itu namun dalam kondisi yang berbeda, Eundong hilang ingatan tentang masa lalunya bahkan ia sudah menikah dan memiliki seorang putra. Tapi Ji Eun Ho tak pernah menyerah ia bahkan masih berharap bisa merebut Eundong ke sisinya lagi. 

Sebenarnya gue agak-agak gregetan dengan sosok Ji Eun Ho ini. Saking setianya gue malah melihat ia sebagai seorang pria yang lemah dan menyedihkan. Kalau di kehidupan nyata ada sosok pria seperti Ji Eun Ho mungkin bisa jadi ia seorang pria langka yang wajib dilestarikan. Tapi ini hanya kisah dalam sebuah drama ya, sampai episode 6 gue bisa menarik kesimpulan bahwa:

"Cinta pertama adalah cinta yang paling indah tapi perpisahan pertamalah yang paling dalam".

Gue masih sedikit bingung beda cinta pertama dan cinta monyet, karena pengalaman gue cinta pertama adalah cinta monyet gue yaitu ketika pertama kali gue suka dengan seseorang yang setiap kali melihat dirinya jantung gue nggak bisa berhenti berdegup dan pandangan gue nggak pernah lepas dari dirinya. 

Pertama kali kenal cinta pertama waktu gue kelas 5 SD. Masih terlalu dini memang ya, gue suka dengan kakak kelas gue yang menurut kaca mata bocah kelas 5 SD kala itu sangat tampan, pintar dan menawan. Sampai duduk di bangku kelas 2 SMP gue masih mengejar cinta pertama gue itu. Namun setelah dia tau gue suka dia dan berbalik dia membalas perasaan gue, gue malah kabur ketakutan. 

Syukurlah gue termasuk salah satu orang yang bisa melepaskan indahnya kisah cinta pertama dan hingga detik ini sejak gue tamat SMP gue nggak pernah lagi bertemu atau sekedar tau tentang cinta pertama gue itu. Pernah sekali melihat akun facebooknya, ternyata ia kini tampak berbeda tak setampan pandangan mata gue kala itu ketika gue masih pakai seragam putih merah.

Setiap orang pasti punya pengalaman cinta pertama yang berbeda-beda, ada yang meninggalkan kenangan manis dan juga ada pula yang meninggalkan kenangan pahit. Menurut gue kenangan cinta pertama itu sangat berbahaya Manis, bila bisa move on dan menjadikan kisah cinta pertama sebagai pembuka jalan untuk menemukan cinta yang sebenar-benarnya. Pahit, bila nggak bisa keluar dari first love syndrome. Karena cinta pertama tak selamanya penuh bunga, patah hati dan trauma akibat cinta pertama yang kandas akan selalu mengikuti. Dan jeleknya Brokenheart syndrome ternyata bisa berpengaruh untuk hubungan asmara di masa mendatang. Akan sangat fatal akibatnya bila nggak bisa lepas dari jeratan kenangan cinta pertama apalagi untuk yang sudah berkeluarga. 

Pernah ada seorang teman lama gue curhat tentang gimana rasanya lelah disiksa rindu. Ia bilang masih sering menangis di tepi tempat tidur karena selalu ingat mantan cinta pertamanya. Perasaan bersalah selalu ia rasakan setiap kali melihat suami dan anaknya. Horor juga sih menurut gue, ternyata kenangan cinta pertama itu sama berbahayanya dengan kehadiran orang ketiga. 

Sejatinya setiap orang menginginkan hubungan rumah tangga yang aman yang nggak pernah ngomongin mantan, nggak pernah digangguin cabe-cabean, nggak ada perselingkuhan, dan nggak pernah baperan seperti istilah anak gaul zaman sekarang. Itulah alasan mengapa gue selalu ketar-ketir kalo suami udah minta izin pengen dateng ke acara reunian teman-teman lamanya. Bisa jadi toh disana ada cinta pertamanya, hehehe.... gue adalah istri yang paranoid, yup itu benar!.

Mereka yang bahagia meski nggak mendapatkan cinta pertamanya adalah mereka yang benar-benar bisa melepaskan dirinya dari kenangan cinta pertamanya. Sepenuhnya mereka menyadari sudah tidak ada tempat untuk cinta pertama namun bahagia karena dulu dirinya pernah merasakan cinta pertama. 

Jadi kesimpulannya, gue salut dengan orang yang yakin menunggu cinta pertamanya, meskipun selalu ada kemungkinan dimana ia berhenti meraih apa yang tak bisa ia raih lagi. Seseorang yang kita pikir adalah milik kita, bisa jadi ternyata bukan milik kita. Kita memiliki kenangan yang indah bersamanya, tapi kita nggak akan pernah memiliki jalan hidupnya. 

Mereka yang bisa hidup bersama dengan cinta pertamanya mungkin adalah orang yang beruntung. Namun fakta lain  banyak pula orang yang hidup berbahagia meski itu dengan cinta yang ke 2,3,4 dan bahkan seterusnya. Seperti yang dikatakan Mario Teguh, cinta pertama jarang sekali menjadi cinta terakhir yang terbaik. Sabar saja, tetaplah pelihara kemuliaan diri anda.

"Berbahagialah orang yang bisa meraih cinta pertamanya atau yang bisa melepaskan diri nya dari kenangan cinta pertamanya. Cinta pertama memang indah, tapi cinta yang terakhir lebih dari sempurna".

Ditulis dengan segenap cinta^^


Thursday, 16 April 2015

Why Do I Love Kdrama

Banyak yang nanya ke gue kenapa sih suka nonton Drama Korea? emang apa bagusnya, bagusan mana sama serial dari barat sana, dan seabrek pertanyaan dengan nada meremehkan lainnya  yang kadang bikin gue males ngejawab dan gue lebih memilih untuk diam ketimbang beradu argumen. Untungnya pertanyaan-pertanyaan itu bukan datang dari emak gue, karena emak gue sama halnya dengan gue pecinta drama korea sejati.

Beberapa alasan kenapa gue jadi Kdrama addict dan lebih memilih Drama Korea sebagai daftar tontonan paling atas  tontonan favorit gue.

Gue suka Aktor dan Aktris Korea
Siapa sih yang nggak terbius dengan ketampanan dan kecantikan para Aktor dan Aktris dalam Drama Korea? sebut saja Rain Bi, Lee Min Hoo, Kang Ji Hwan, Park Seo Joon dan sederet nama beken lainnya. Bukan berarti aktor dan aktris dari indonesia nggak ada yang gue suka ya, gue masih menempatkan Nicholas Saputra dalam lubuk hati gue yang terdalam dan Dian Sastro sebagai inspirasi gue sedangkan yang aktris gue suka banget sama Song Hye kyo, Eun Hye dan Jang Nara. 

Gue suka ide cerita dalam Drama Korea
Yang suka Drama Korea pasti sepakat sama gue mengenai hal ini, kebanyakan ide cerita dalam Drama Korea yang gue tonton nggak pernah gue lihat di Sinetron Indonesia (nggak ada maksud ngebandingin ya). Sepertinya ide cerita dalam Drama Korea kadang diluar dugaan kita seperti serial My Heart From Another Star, masa iya sih ada alien yang hidup ratusan tahun bisa jatuh cinta sama seorang artis yang notabene nya manusia biasa, terus ada juga serial Blood yang bercerita tentang seorang vampire yang juga jatuh cinta sama seorang Dokter, atau yang masih ingat Drama Faith nya Lee Min Hoo, yang juga bercerita tentang seorang Dokter bedah yang bisa melewati lorong waktu. Kalau dipikir emang nggak masuk akal bisa-bisaan Writer nya lah mengkhayal dan menjadikan ide cerita, tapi nggak bisa dipungkiri gue suka genre Drama Korea yang seperti ini dan gue bisa terima ketidakmungkinan itu. Selain genre fantasi sepertinya gue suka semua genre Drama Korea apalagi yang romance comedy seperti Drama Witch Romance. Dari sekian banyak drama yang gue tonton walaupun kadang ending nya nggak seperti apa yang di harapkan, seperti drama Endless Love drama korea pertama yang gue tonton dimana endingnya berakhir sangat memilukan ditutup dengan kesedihan karena kematian dua tokoh sentralnya Eun Seuh dan Yoon Jun Suh, namun banyak banget kok drama korea favorit gue yang berakhir happy ending seperti  drama Lie To Me, Goong, Full House, Personal Taste, My Fair Lady, Pinocchio, Healer, My lovely girl  dan sederet judul keren lainnya. Selain yang gue tulis diatas gue juga suka Drama Korea saeguk yang ceritanya didasarkan pada sejarah seperti Dae Jang Geum misalnya.

Gue suka plot dan alur Drama Korea
Udah lumrah dan biasa kali ya kalau di sinetron-sinetron alur ceritanya berkisah tentang anak orang kaya yang jatuh cinta dengan anak pembantu atau kisah ibu tiri yang ingin menguasai harta kekayaan bahkan yang paling sering di jumpai adalah cerita rebutan suami atau pacar, begitupun di Drama Korea alur cerita seperti ini sering banget di jumpai di setiap drama, tapi yang bikin beda alur cerita di Drama Korea dan sinetron kita menurut pandangan gue adalah kalo di Drama Korea alur cerita biasa seperti itu bisa dikemas lebih menarik dan apik contohnya sederhana aja, misalnya cerita tentang orang paling kaya di Korea seperti di Boys Before Flowers disitu ditunjukin mulai dari hal-hal kecil dan faktor-faktor apa yang ikut menunjang dan menunjukkan kalo mereka benar-benar kaya seperti rumah tempat tinggal, mobil, dan  usaha yang digelutin. Begitupun tokoh antagonis di Drama Korea nggak perlu ngebentak dengan omongan kasar cukup dengan dialog yang santai tapi menikam udah cukup memperjelas kalau dia tokoh antagonis dalam drama tersebut.

Gue suka OST dalam Drama Korea
Sepertinya para Composer dan tim produksi sebuah drama di Korea sana sangat pintar ya dalam mengcombinasi antara drama dan original soundtracknya, yang gue temuin sepanjang sejarah gue nonton Drama Korea rata-rata ost nya sangat maching dengan drama tersebut, seperti ost drama Endless Love yang berjudul Reason, gimana nggak nangis bombay nonton dramanya yang sedih itu lha wong ost nya terdengar pilu sekali. Tapi yang paling gue suka adalah instrumen yang berjudul Paradiso dari drama Full House, dan sampe sekarang gue belum bisa move on dari semua original soundtrack drama It's Oke That's love yang semuanya catchy banget menurut gue.

Gue suka pesan moral dalam Drama Korea
Setiap selesai namatin Drama Korea gue kadang suka gagal move on, galau karena nggak puas sama ending ceritanya atau dilema karena endingnya terlalu bikin gue bahagia sehingga berniat untuk mengulang lagi dari episode pertama. Ada semacam kepuasan batin kalo abis nonton Drama Korea (bagian ini mungkin sedikit lebay) tapi ini beneran gue suka ngambil hikmah dari setiap cerita, sepertinya setiap habis nonton Drama Korea banyak hal baru yang gue dapet, seperti ketika gue nonton Drama Emergency Couple yang bergenre romance dan medical, setelah nonton drama itu gue jadi tau beberapa istilah dalam ilmu kedokteran, begitupun dalam drama My Lovely Girl yang menyelipkan sedikit cerita tentang industri musik di Korea. Tapi yang paling sering gue temuin di Drama Korea adalah teman masa kecil = jodoh di masa depan. Selain pesan moral yang gue dapet gue juga suka kutipan-kutipan yang ada di Drama Korea, contoh ini kutipan favorit gue dalam Drama Pinocchio.
“Sebuah kebenaran terjebak dalam dinding kebohongan mungkin terlihat damai seperti air yang tenang, tapi tanpa ada yang menyadarinya. Kebenaran itu akan menemukan celah terkecil di dinding dan akan keluar menuju dunia. Dan pada akhirnya dinding itu akan runtuh dan kebenaran mengalir keluar ke dunia.” (Choi Dal Po)

Gue suka scene-scene romantis dalam Drama Korea
Nggak bisa dipungkiri adegan romantis adalah saat-saat yang ditunggu saat nonton Drama Korea, nggak melulu harus adegan ciuman ataupun adegan hot di ranjang, berbagai potongan scene romantis dalam Drama Korea itu nggak monoton seperti di sinetron-sinetron, contohnya yang selalu gue temui di Sinetron Indonesia adegan lagi jalan trus ketabrak cowok ganteng, lalu bukunya jatoh dan sama-sama mungutin itu buku sambil pandang-pandangan abis itu  sadar trus berantem dengan dialog standar "loe buta nggak punya mata ya? atau bla...bla... bla.... . Scene romantis dalam Drama Korea yang gue temui kebanyakan sangat manis dan nggak pernah gue temuin di sinetron kita misalnya scene saat Lee Min Ho ngeringin rambut Son Ye Jin dalam drama Personal Taste.



Scene makan roti Lee Jong Suk dan Park Shin Hye di Drama Pinocchio.


Salah satu scene favorit gue ketika  Lee Min Ho melihat Park Shin Hye yang sedang tidur di The Heirs.


Scene romantis dalam drama Fated To Love You di episode terakhir.


Scene yang sepertinya setiap orang suka ya, basah-basahan seperti dalam adegan drama It's Oke That's Love ini.



Salah satu adegan yang gue suka di Drama Lie To Me, dan gue sempet berkhayal dulunya waktu masih pacaran duduk di bangku berdua sambil ngeliat bunga sakura berguguran, sayangnya hal itu nggak pernah kesampaian dan nggak ada bunga sakura juga di kampung gue.



Mau yang lebih romantis? nih adegan pandang-pandangan antara gue sama bang healer hihihi... tapi sayangnya adegan ini nggak pernah ada di drama, di sensor kali editor nya sentimen sama gue! .



Itu sebagian alasan kenapa gue suka banget sama Drama Korea, kalo ditulis secara detil bisa panjang banget kali, bagi yang nggak berminat atau belum pernah nonton Drama Korea coba deh sekali-sekali bersahabat dengan remote DVD nya kali aja jadi demen atau kalo emang nggak demen berarti memang kita nggak pernah sehati, dan kesukaan seseorang memang nggak bisa di paksakan. Masa gue mau maksain elo yang tadi nya demen nonton GGS jadi nonton Sensory Couple? ya sudahlah... gue sudah cukup  berbahagia dengan nonton Drama Korea sebagai pelipur lara dikala sedih dan obat anti badmood yang paling mujarab, diluar sana gue sudah menemukan teman-teman yang senasib dengan gue. Dan Kami bahagia dengan KEGILAAN ini!!